Tim Peneliti Muda IPB University Kaji Program Restorasi Mangrove di Pantai Utara Jawa, Raih Dukungan FINCAPES
Peneliti muda dari Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) IPB University mendapat dukungan dari The Flood Impacts, Carbon Pricing and Ecosystem Sustainability (FINCAPES) Project untuk mengkaji Program Restorasi Mangrove di Pantai Utara Jawa.
Secara garis besar, kegiatan ini bertujuan membantu merancang rehabilitasi mangrove yang sesuai dengan kondisi lokasi. Kegiatan yang berlokasi di pesisir Indramayu ini mencoba untuk memadukan data fisik (seperti sedimentasi, batimetri, perubahan garis pantai), data ekologi (kualitas air dan substrat), serta kondisi sosial masyarakat.
FINCAPES sendiri merupakan program kolaborasi riset internasional yang fokus pada isu perubahan iklim, ketahanan wilayah, dan pengelolaan ekosistem. Melalui skema pendanaan seperti I-CAN Sync, FINCAPES mendukung kerja sama antara perguruan tinggi, lembaga riset, dan mitra terkait untuk menghasilkan penelitian yang relevan dan aplikatif.
“Kegiatan ini berlangsung sejak Agustus 2025 hingga Agustus 2026. Lokasi studi berada di sekitar pesisir Indramayu, terutama sekitar daerah aliran sungai (DAS) Cimanuk,” ungkap Tarisa Fadilah, ST selaku perwakilan PPLH IPB University.
Rangkaian antara lain berupa survei sosial ekonomi masyarakat di enam desa dan pengambilan data biofisik di beberapa lokasi seperti pesisir Waledan, Cangkring, dan Pantai Tiris.
Riset melibatkan tim ahli dari beberapa institusi, yaitu IPB University, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Institut Teknologi Bandung, dan Institute of Technology of Cambodia sebagai bentuk kolaborasi internasional.
Pada tahap selanjutnya, koordinasi juga dilakukan dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Indramayu, DLH Jawa Barat, dan Balai Pengelolaan DAS (BPDAS) Cimanuk-Citanduy supaya hasil penelitian bisa relevan dengan kebutuhan stakeholder terkait.
Kepala PPLH IPB University Dr Yudi Setiawan, menyebut program dan kegiatan yang dijalankan PPLH tidak hanya terfokus kepada kajian terkait perizinan lingkungan. Akan tetapi, juga menyentuh aspek riset kolaboratif dengan lembaga penelitian, universitas, dan organisasi lingkungan internasional yang concern dengan isu perubahan iklim, restorasi ekosistem, sosial lingkungan, dan sebagainya.
“Kegiatan bersama FINCAPES dengan dukungan dari universitas dalam dan luar negeri, maupun lembaga penelitian seperti BRIN diharapkan akan memperluas dampak dan kontribusi PPLH IPB University pada level nasional maupun internasional,” tegasnya.
Ia berharap riset ini menghasilkan zona prioritas restorasi, peta kesesuaian mangrove, dan rekomendasi kebijakan yang bisa dipakai pemerintah daerah untuk perencanaan kedepan.
“Penilaian terhadap aspek sosial dilakukan agar kebijakan yang dihasilkan oleh program rehabilitasi mangrove selama ini tidak hanya benar secara sains, tetapi juga mempunyai nilai manfaat dan diterima dengan baik oleh penduduk sekitar yang memanfaatkan sumber daya mangrove tersebut,” ungkap Dr Yudi. (*/Rz)
