Peneliti IPB University Kembangkan Suspensi Gambir sebagai Kandidat Terapi Fibrosis Paru
IPB University kembali menghadirkan inovasi berbasis kekayaan hayati Indonesia melalui pengembangan komposisi suspensi getah kering gambir (Uncaria gambir) sebagai kandidat fibropreventif dan antifibrosis paru.
Inovasi ini membuka peluang lahirnya alternatif terapi berbahan alam yang lebih aman sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas gambir nasional.
Fibrosis paru merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan terbentuknya jaringan parut pada paru-paru sehingga mengganggu fungsi pernapasan. Hingga saat ini, pilihan terapi untuk penyakit tersebut masih terbatas, bahkan pada kondisi progresif transplantasi paru menjadi satu-satunya pengobatan yang dinilai efektif.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, Dr dr Desdiani, SpP, MKK, MSc(MBioEt) menjelaskan bahwa penggunaan bahan alam menjadi pendekatan yang semakin menjanjikan karena memiliki efek toksik yang relatif rendah serta mengandung berbagai senyawa aktif yang bekerja pada banyak target penyakit.
“Penelitian ini mengembangkan komposisi suspensi ekstrak getah kering gambir sebagai kandidat fibropreventif dan antifibrosis paru. Gambir mengandung katekin yang memiliki aktivitas antioksidan, antiradang, serta berpotensi menghambat proses pembentukan jaringan parut pada paru,” ujarnya.
Penelitian dilakukan dengan menggunakan model hewan yang mengalami fibrosis paru akibat induksi bleomisin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian suspensi gambir mampu memperbaiki berbagai parameter peradangan, termasuk jumlah sel radang, kadar Transforming Growth Factor Beta-1 (TGF-β1), Nuclear Factor Kappa B (NF-κB), Tissue Inhibitor of Metalloproteinase-1 (TIMP-1), ekspresi kolagen tipe I, hingga gambaran histopatologi paru.
Menurut Dr dr Desdiani, kebaruan inovasi ini terletak pada pemanfaatan ekstrak getah kering gambir dalam bentuk suspensi yang diformulasikan sebagai kandidat terapi fibrosis paru. Berbeda dengan penelitian sebelumnya, invensi tersebut telah menunjukkan bukti praklinis mengenai potensi gambir dalam menghambat perkembangan fibrosis paru.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa inovasi ini tidak hanya memberikan manfaat bagi dunia kesehatan, tetapi juga memiliki dampak strategis terhadap pengembangan komoditas lokal Indonesia. Gambir yang selama ini lebih dikenal sebagai komoditas perkebunan berpotensi memiliki nilai ekonomi lebih tinggi apabila dikembangkan menjadi bahan baku obat herbal berbasis bukti ilmiah.
“Indonesia merupakan salah satu produsen gambir terbesar di dunia. Pemanfaatan gambir sebagai kandidat obat herbal tidak hanya mendukung pengembangan terapi yang lebih aman dan terjangkau, tetapi juga dapat meningkatkan kesejahteraan petani serta memperkuat industri obat herbal nasional,” jelasnya.
Dalam tahap pengembangan berikutnya, Dr dr Desdiani akan melanjutkan proses hilirisasi melalui uji klinis pada manusia guna mengevaluasi keamanan dan efektivitas suspensi gambir.
Selain itu, ia juga akan memperkuat kolaborasi dengan petani gambir, rumah sakit, industri obat herbal, perguruan tinggi, dan pemerintah agar inovasi tersebut dapat berkembang menjadi fitofarmaka yang siap dimanfaatkan masyarakat secara luas. (dr)
