IPB University Perkuat Transformasi Organisasi melalui Riset Berdampak, Hilirisasi Inovasi, dan Tata Kelola Bisnis
IPB University memperkuat transformasi organisasi melalui penataan tata kelola riset, penguatan pusat studi, percepatan hilirisasi dan komersialisasi inovasi, serta pembenahan tata kelola bisnis.
Arah strategis tersebut disampaikan Rektor IPB University, Dr Alim Setiawan Slamet, saat melantik pejabat struktural di Gedung Startup Center, Kampus Taman Kencana, Bogor, Senin (11/8).
Dalam sambutannya, Dr Alim menegaskan bahwa pelantikan pejabat struktural merupakan bagian dari langkah strategis untuk memperkuat relevansi dan kualitas institusi, mengakselerasi dampak, serta memastikan kesejahteraan dan keberlanjutan IPB University.
“Riset kita harus bergeser orientasinya. Bukan lagi sekadar mengejar jumlah, melainkan mengejar kualitas dan dampak nyata,” ujar Dr Alim saat acara Pelantikan Pejabat Struktural di Gedung Startup Center, Kampus Taman Kencana, Bogor.
Menurutnya, tata kelola riset yang menggunakan anggaran IPB University akan diarahkan dari process based menjadi output based.
Dengan pendekatan tersebut, keberhasilan riset tidak hanya dinilai dari terpenuhinya prosedur, tetapi juga dari luaran seperti publikasi bereputasi, paten, teknologi terapan, rekomendasi kebijakan, hingga inovasi yang diadopsi masyarakat.
Sejalan dengan penguatan riset, pusat studi juga didorong menjadi simpul kolaborasi lintas disiplin untuk menjawab persoalan strategis, mulai dari ketahanan pangan dan gizi, pengelolaan komoditas berkelanjutan, industri halal, ekonomi internasional, hingga rekayasa dan teknologi pertanian tropis.
Dr Alim menekankan bahwa tantangan seperti perubahan iklim, ekonomi biru, dan kedaulatan pangan tidak dapat diselesaikan melalui sekat disiplin ilmu. Pendekatan transdisiplin bukan sekadar pilihan, melainkan keharusan,” tegasnya.
Pada aspek hilirisasi, IPB University menempatkan Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship (LPA2I) sebagai ujung tombak dalam mengembangkan ekosistem science techno park (STP) sekaligus memperkuat inovasi, alih teknologi, dan pemberdayaan masyarakat. Pengembangan living lab di desa, kawasan pesisir, dan sentra produksi juga menjadi strategi agar inovasi dapat diuji dan dikembangkan bersama masyarakat.
Selain itu, penataan tata kelola bisnis dilakukan melalui pemisahan fungsi regulasi dan pengawasan dengan fungsi operasional.
Menurut Dr Alim, langkah tersebut diperlukan agar unit usaha dapat bergerak lebih profesional, lincah, dan berorientasi pada kinerja, sementara kepentingan institusi tetap terjaga melalui pengawasan yang independen.
Menutup sambutannya, Dr Alim mengajak pejabat struktural yang dilantik untuk mengawal perubahan dengan loyalitas, kritik konstruktif, dan kerja nyata. Ia menekankan pentingnya kepemimpinan yang adaptif, rendah hati, dapat dipercaya, serta mampu menjadi teladan bagi sivitas akademika. (dr)
