IPB University Kembangkan Kawasan Wakaf Produktif Terpadu sebagai Living Lab Inovasi Pertanian Berkelanjutan
IPB University mengembangkan Kawasan Wakaf Produktif Terpadu Pertanian (KWPT) di Desa Cihideung Ilir, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, Rabu (30/7). Langkah ini sebagai upaya penguatan peran wakaf sebagai instrumen pembangunan berkelanjutan.
Berdiri di atas lahan wakaf seluas 1,3 hektare yang diterima sejak 2023, kawasan ini dirancang tidak hanya sebagai pusat pengembangan pertanian dan peternakan, tetapi juga sebagai living lab yang mengintegrasikan riset, inovasi, serta pemberdayaan masyarakat.
Wakil Rektor IPB University Bidang Kerjasama dan Konektivitas Global, Prof Iskandar Z Siregar, menegaskan bahwa KWPT akan menjadi ruang pembelajaran yang mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
“KWPT harus menjadi living lab yang mengintegrasikan keilmuan dan kemanfaatan. Inovasi yang dikembangkan tidak cukup hanya unggul secara akademik, tetapi juga harus memberikan dampak yang bisa dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Menurut Prof Iskandar, IPB University memiliki beragam inovasi di bidang pertanian yang siap diimplementasikan di kawasan tersebut, mulai dari benih unggul, pupuk, hingga teknologi pertanian berkelanjutan. Salah satu konsep yang tengah disiapkan adalah penerapan agri-photovoltaics, yaitu integrasi panel surya dengan lahan pertanian sehingga energi yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk mendukung operasional peternakan maupun sistem irigasi.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam pengembangan KWPT. Menurutnya, kawasan ini diharapkan menjadi model nasional yang dapat direplikasi di berbagai daerah melalui sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, lembaga filantropi, dan masyarakat.
Sementara itu, Kepala Unit Wakaf dan Dana Sosial (UWDS) IPB University, Prof Alla Asmara, menjelaskan bahwa KWPT dikembangkan dengan mengintegrasikan usaha peternakan sapi, peternakan kambing, dan pertanian sebagai unit bisnis utamanya.
“Kami ingin aset wakaf ini memberikan manfaat seluas-luasnya bagi umat. Selain mengembangkan fasilitas peternakan, kami juga mengikhtiarkan pembangunan klinik serta memperkuat program pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan,” jelasnya.
Apresiasi datang dari Wakil Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI), Dr H Ahmad Zubaid. Ia menilai langkah IPB University mengelola tanah wakaf menjadi kawasan produktif merupakan contoh nyata bagaimana aset wakaf dapat menghasilkan nilai ekonomi sekaligus memberikan manfaat sosial secara berkelanjutan.
“Tanah wakaf yang belum dimanfaatkan seharusnya diproduktifkan sehingga memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat. Apa yang dilakukan IPB University menjadi contoh baik bagaimana wakaf dapat mendukung pendidikan, pemberdayaan, dan pembangunan ekonomi,” katanya.
Melalui KWPT, IPB University berharap dapat menghadirkan model pengelolaan wakaf produktif yang berbasis ilmu pengetahuan, inovasi, dan kolaborasi. Kawasan ini diharapkan menjadi pusat lahirnya berbagai teknologi terapan yang mendukung pertanian berkelanjutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian, wakaf tidak hanya menjadi instrumen ibadah, tetapi juga mampu menjadi penggerak pembangunan ekonomi, sosial, dan lingkungan yang berkelanjutan. (AS)
