Indonesia Impor Babi dari Denmark, Pakar IPB University Peringatkan Risiko Heat Stress

Indonesia Impor Babi dari Denmark, Pakar IPB University Peringatkan Risiko Heat Stress

indonesia-impor-babi-dari-denmark-pakar-ipb-university-peringatkan-risiko-heat-stress
Foto: NV Randers A/S Denmark via Jakarta JakartaGlobe
Riset dan Kepakaran

Indonesia pertama kali mengimpor babi hidup sebanyak 546 ekor indukan Landrace–Yorkshire (LY) yang tiba di Bandara Sam Ratulangi, Manado pada awal Juli lalu. Impor ini dilakukan untuk membantu memulihkan populasi babi nasional yang sempat menurun akibat wabah African Swine Fever (ASF).  

Pakar Genetika Ekologi IPB University, Prof Ronny Rachman Noor mengungkapkan, alasan Indonesia mengimpor dari Denmark karena negara tersebut dikenal sebagai pusat genetika babi terbaik di dunia. 

“Bibit LY dinilai sangat baik, dengan rata-rata 14 anak per kelahiran, lebih banyak daripada babi lokal dengan 8 anak, sehingga efisiensi pakan lebih tinggi dan biaya produksi lebih rendah. Selain itu, dagingnya berkualitas dan bebas ASF,” ujarnya.

Kendati demikian, Prof Ronny menyoroti risiko heat stress (stres panas) babi impor Denmark di Indonesia. Penelitian menunjukkan bahwa babi dari iklim sedang dapat mengalami stres panas ketika ditempatkan di daerah tropis. Gejalanya meliputi napas lebih cepat, peningkatan suhu tubuh, dan penurunan produktivitas. 

Prof Ronny menuturkan, keberhasilan pemeliharaan babi impor asal Denmark di Indonesia sangat bergantung pada penerapan good farming practices (GFP) yang disiplin. Pengelolaan lingkungan kandang menjadi kunci utama untuk menekan risiko stres panas. Hal ini dapat diantisipasi melalui penyediaan ventilasi yang baik, penggunaan sistem pendingin seperti kipas dan sprinkler, pengaturan kepadatan ternak, serta penerapan lantai berparit agar kandang tetap bersih dan tidak lembab.

​Selain manajemen lingkungan, kecukupan gizi dan formulasi pakan adaptif tropis memegang peranan krusial bagi daya tahan tubuh babi impor. “Pastikan formulasi pakan tropis mengandung energi yang tidak berlebihan, cukup protein untuk kebutuhan, serta menambahkan mineral seperti zink (Zn) dan selenium (Se) yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh,” ujar Prof Ronny. 

Ia menambahkan, pasokan air minum dingin dan bersih yang melimpah juga wajib tersedia untuk mencegah dehidrasi, di samping pemberian suplemen pakan seperti probiotik dan enzim guna mendukung sistem pencernaan.

​Selain itu, aspek kesehatan dan reproduksi turut menjadi perhatian utama melalui penerapan biosekuriti ketat, sterilisasi area, masa karantina, serta vaksinasi rutin untuk mempertahankan status bebas wabah. Untuk mendukung kestabilan reproduksi, suhu kandang induk harus dijaga agar siklus pembuahan berjalan optimal. 

“Pastikan suhu kandang induk tetap stabil agar mereka merasa nyaman dan siklus estrus tidak terganggu. Inseminasi buatan dapat meningkatkan kualitas genetik Denmark melalui kontrol reproduksi yang lebih akurat. Selain itu, melakukan crossbreeding dengan babi lokal dapat menghasilkan keturunan yang lebih cocok dan lebih tahan terhadap iklim tropis,” saran Prof Ronny.

Prof Ronny menambahkan, pengelolaan sosial dan ekonomi juga harus diperhatikan, termasuk pelatihan bagi peternak agar mampu menguasai teknologi dari Denmark. Pengembangan usaha berkelanjutan penting agar ternak tidak terlalu bergantung pada impor dan mendukung pembibitan lokal. 

“Dengan menerapkan biosekuriti, nutrisi adaptif, dan manajemen kandang modern, babi dari Denmark mampu bertahan dan bahkan meningkatkan produktivitasnya di Indonesia,” pungkas Prof Ronny. (MHT)