Inovasi Peneliti IPB University Sulap Limbah Rumput Laut dan Jeroan Ikan Jadi Pupuk Organik Bernilai Tinggi
Limbah industri rumput laut dan perikanan yang selama ini kerap menjadi persoalan lingkungan kini disulap menjadi pupuk organik inovatif oleh Guru Besar IPB University, Prof Nurjanah.
Melalui pupuk bokashi residu garam rumput laut, ia menghadirkan solusi ramah lingkungan yang tidak hanya meningkatkan kesuburan tanah, tetapi juga mendukung pertanian berkelanjutan melalui konsep zero waste dan ekonomi sirkular.
Pupuk bokashi ini dibuat dari bahan baku organik yang diperkaya residu garam rumput laut sebagai sumber unsur hara makro dan mikro. Selain itu, limbah jeroan ikan dimanfaatkan untuk meningkatkan kandungan nutrisi sehingga menghasilkan pupuk dengan unsur hara yang lebih lengkap dibandingkan pupuk organik konvensional.
“Inovasi ini memanfaatkan residu garam rumput laut dan limbah jeroan ikan sebagai bahan baku bernilai tambah, sehingga mendukung konsep zero waste, ekonomi sirkular, sekaligus meningkatkan kualitas nutrisi pupuk,” ujar Prof Nurjanah.
Menurutnya, salah satu keunggulan inovasi ini adalah ketersediaan bahan baku yang melimpah. Residu garam rumput laut, limbah organik terestrial, dan limbah jeroan ikan merupakan hasil samping industri pengolahan rumput laut, perikanan, maupun kegiatan pertanian yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
Pemanfaatan limbah tersebut tidak hanya menjamin keberlanjutan pasokan bahan baku, tetapi juga membantu mengurangi timbunan limbah sekaligus menciptakan nilai ekonomi baru.
Meski demikian, Prof Nurjanah mengaku pengembangan produk masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari menjaga konsistensi kualitas bahan baku, mengendalikan proses produksi agar mutu pupuk tetap stabil, hingga membangun kepercayaan petani yang masih bergantung pada pupuk kimia. Selain itu, produk juga harus melalui pengujian mutu, proses perizinan, serta didukung sistem distribusi dan penyimpanan yang baik sebelum dipasarkan secara luas.
Di sisi lain, peluang pasar pupuk bokashi dinilai sangat menjanjikan. Meningkatnya kebutuhan pupuk organik dan kesadaran masyarakat terhadap pertanian berkelanjutan membuka ruang besar bagi pengembangan inovasi ini. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023 menunjukkan Indonesia masih mengimpor sekitar 5.367 ton pupuk organik, yang mengindikasikan kebutuhan nasional belum sepenuhnya dipenuhi oleh produksi dalam negeri.
“Pupuk bokashi berbasis residu garam rumput laut berpotensi menjadi alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia. Selain ramah lingkungan, produk ini memiliki kandungan nutrisi yang lebih lengkap berkat kombinasi residu garam rumput laut, limbah organik, dan enzim dari limbah jeroan ikan,” kata Prof Nurjanah.
Proses pembuatannya dilakukan melalui fermentasi bahan organik menggunakan mikroorganisme lokal (MOL) yang dibuat dari limbah hayati, air kelapa, gula merah, dan garam. Residu garam rumput laut kemudian dicampur dengan sekam padi dan dedak, disemprot larutan MOL, lalu difermentasi selama tujuh minggu hingga menghasilkan bokashi matang yang siap digunakan.
Melalui inovasi ini, Prof Nurjanah berharap pupuk bokashi dapat meningkatkan produktivitas pertanian secara berkelanjutan, mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, serta memperkuat penerapan konsep zero waste dan ekonomi sirkular yang memberikan nilai tambah bagi sektor pertanian, perikanan, dan industri pengolahan rumput laut di Indonesia. (dh)
