OVOC IPB University Perluas Jejaring Global di Singapura, Dorong Strategi Ekspor Berbasis Inklusivitas dan Kolaborasi

OVOC IPB University Perluas Jejaring Global di Singapura, Dorong Strategi Ekspor Berbasis Inklusivitas dan Kolaborasi

ovoc-ipb-university-perluas-jejaring-global-di-singapura-dorong-strategi-ekspor-berbasis-inklusivitas-dan-kolaborasi
Berita / Pengabdian Masyarakat

IPB University memperkuat langkah internasionalisasi melalui rangkaian kunjungan strategis ke Singapura. Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen IPB University dalam memperkuat jejaring internasional sekaligus memperkenalkan model pengembangan masyarakat berbasis inovasi melalui program One Village One CEO (OVOC).

Selain membangun kolaborasi global, kunjungan selama tiga hari ini bertujuan memperluas akses pasar serta mempelajari ekosistem bisnis dan inovasi yang mendukung pengembangan produk unggulan desa.

Hari pertama diawali dengan kunjungan ke National University of Singapore (NUS) Enterprise Social Impact Hub. Delegasi OVOC berdiskusi dengan Sazali Johari dan Yuen Ping mengenai pengembangan inovasi, kewirausahaan, serta dampak sosial yang terintegrasi dengan dunia akademik.

Dr Asaduddin Abdullah, ketua tim delegasi menyebut, berbagai pengalaman yang diterapkan di Singapura menjadi inspirasi bagi pengembangan OVOC sebagai model pemberdayaan masyarakat yang tidak hanya menghasilkan produk unggulan, tetapi juga membangun entrepreneur yang mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Pada hari kedua, delegasi melakukan audiensi dengan Atase Perdagangan Republik Indonesia di Singapura, Billy Anugrah, untuk membahas peluang ekspor produk unggulan desa Indonesia ke pasar Singapura.

Business model untuk ekspor bukan hanya soal keunggulan produk, tetapi bagaimana mengindustrialisasi kepercayaan. Produk dapat diciptakan dan inovasi dapat dikembangkan, tetapi kepercayaan, komitmen produksi, dan kepastian pasokan merupakan nilai yang paling dicari oleh buyer internasional,” jelasnya.

Selain itu, delegasi memperoleh berbagai lesson learned mengenai preferensi pasar internasional, mulai dari perbedaan kemasan kopi di setiap negara, strategi white label, pentingnya owned brand, hingga peluang produk Indonesia seperti alpukat, kopi, dan berbagai komoditas hortikultura untuk memasuki pasar premium Singapura.

Identifikasi Peluang Pasar
Pada hari ketiga, tim mengunjungi Pasir Panjang Wholesale Centre, pusat perdagangan buah, sayuran, dan komoditas segar terbesar di Singapura. Kunjungan ini bertujuan untuk mengidentifikasi peluang pasar bagi komoditas unggulan Indonesia sekaligus memahami karakteristik permintaan konsumen Singapura terhadap produk hortikultura.

“Dari hasil observasi lapangan, kami melihat bahwa komoditas seperti ubi dan tomat memiliki peluang menjanjikan untuk dikembangkan sebagai produk ekspor. Tingginya kebutuhan Singapura terhadap produk pangan segar membuka kesempatan bagi Indonesia untuk menjadi pemasok, asalkan mampu memenuhi standar kualitas, keseragaman ukuran, kontinuitas pasokan, serta sistem sortasi dan pengemasan yang baik,” ujar Dr Asad.

Rangkaian kunjungan internasional ini memperkuat komitmen OVOC IPB University dalam membangun ekosistem bisnis desa yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga pada pengembangan kapasitas sumber daya manusia, penguatan kelembagaan, serta strategi ekspor yang berkelanjutan.

Melalui pembelajaran dari Singapura, OVOC akan terus mengembangkan model pendampingan yang mendorong lahirnya produk unggulan desa dengan kualitas global, didukung roadmap yang jelas, kemitraan internasional, serta pelaku usaha yang memiliki karakter profesional dan mampu membangun kepercayaan pasar. (*/Rz)