Harganas, Dosen IPB University Ingatkan Keluarga sebagai Benteng Pertama Hadapi Tantangan Sosial

Harganas, Dosen IPB University Ingatkan Keluarga sebagai Benteng Pertama Hadapi Tantangan Sosial

harganas-dosen-ipb-university-ingatkan-keluarga-sebagai-benteng-pertama-hadapi-tantangan-sosial.jpg
Ilustrasi: magnific
Riset dan Kepakaran

Di tengah berbagai tantangan sosial yang kian kompleks, momentum Hari Keluarga Nasional (Harganas) menjadi pengingat pentingnya memperkuat ketahanan dan perlindungan keluarga. Keluarga tidak hanya menjadi tempat tumbuh, tetapi juga benteng pertama dalam melindungi setiap anggotanya dari berbagai bentuk kekerasan dan kejahatan.

Dosen Program Studi Ilmu Keluarga dan Konsumen IPB University, Rahmi Damayanthi, SSi, MSi, mengatakan bahwa keluarga harus menjadi safe haven atau tempat paling aman dan paling dipercaya bagi setiap anggota keluarga. 

“Hubungan yang hangat, penuh penerimaan, dan terbuka mendorong anggota keluarga untuk berani menyampaikan pengalaman, kekhawatiran, maupun situasi yang dirasa mencurigakan bahkan ketika menghadapi ancaman,” ujarnya.

Keluarga, lanjut dia, juga berperan penting dalam membentuk kemampuan individu mengambil keputusan secara matang. Pengasuhan tidak hanya bertujuan membentuk individu yang patuh terhadap aturan, tetapi juga agar mereka memiliki kemampuan menilai, mengenali pengaruh positif maupun negatif, serta bijaksana memilih lingkungan pergaulan dan pertemanan.

“Kemampuan untuk menyeleksi dan membangun hubungan dengan orang-orang yang sehat secara sosial dan emosional merupakan keterampilan hidup yang penting untuk melindungi individu dari berbagai bentuk manipulasi, eksploitasi, maupun kejahatan,” jelasnya.

Dari sisi pembentukan karakter, Rahmi menambahkan, keluarga juga berperan dalam menanamkan karakter dan nilai-nilai kemanusiaan, seperti empati, penghargaan terhadap martabat manusia, kemampuan mengendalikan emosi, serta penyelesaian konflik secara sehat. Nilai-nilai ini perlu dibangun sejak dini melalui keteladanan dan interaksi positif dalam kehidupan keluarga sehari-hari.

“Hal tersebut dapat menjadi faktor protektif untuk mencegah berkembangnya perilaku agresif, manipulatif, maupun berbagai bentuk kekerasan terhadap orang lain,” tambahnya.

Pentingnya penguatan fungsi keluarga semakin terlihat dari berbagai kasus kekerasan dan kejahatan yang terjadi di masyarakat, termasuk kasus penyekapan yang terjadi baru-baru ini. Rahmi menyampaikan keprihatinan mendalam atas penderitaan yang dialami korban dan keluarga. Menurutnya, pengalaman disekap dalam waktu yang sangat lama dapat menimbulkan dampak fisik, psikologis, sosial, hingga trauma berkepanjangan.

“Dari sudut pandang ilmu keluarga, kasus ini menunjukkan semakin pentingnya memperkuat fungsi keluarga sebagai lingkungan pertama dan utama dalam pembentukan karakter, perlindungan, serta kesejahteraan psikologis anggota keluarga,” ujarnya.

Oleh karena itu, ia menilai konsep Kampung Ramah Keluarga yang dikembangkan Prof Euis Sunarti, Guru Besar Ketahanan Keluarga IPB University, menjadi salah satu inovasi sosial yang relevan. Konsep tersebut mendorong budaya saling mengenal, saling peduli, serta memiliki mekanisme deteksi dan respons dini terhadap berbagai persoalan keluarga.

“Berdasarkan perspektif teori ekologi keluarga, perlindungan individu juga dipengaruhi kualitas lingkungan sosial. Karena itu, keluarga membutuhkan dukungan masyarakat yang peduli dan responsif terhadap berbagai persoalan yang terjadi di sekitarnya,” tuturnya.

Menurutnya, kasus-kasus seperti penyekapan, penelantaran, maupun bentuk kejahatan lainnya sering kali berlangsung dalam waktu lama karena minimnya kepedulian dan keterhubungan sosial di lingkungan sekitar. 

“Oleh karena itu, selain memperkuat kualitas pengasuhan dan ketahanan keluarga, perlu dibangun lingkungan yang ramah keluarga sehingga perlindungan keluarga menjadi tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat, dan berbagai institusi sosial,” tandasnya. (dh)