IPB University dan Pelindo Bina Desa Totoran Jadi Sentra Maritim Berbasis Kepiting Soka

IPB University dan Pelindo Bina Desa Totoran Jadi Sentra Maritim Berbasis Kepiting Soka

ipb-university-dan-pelindo-bina-desa-totoran-jadi-sentra-maritim-berbasis-kepiting-soka.jpg
Berita / Pengabdian Masyarakat

Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship (LPA2I) IPB University dan PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) menggelar kunjungan lapangan dan dialog pemberdayaan masyarakat di Desa Totoran, Kecamatan Pasekan, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat (15/6). 

Kegiatan ini menjadi momentum evaluasi atas program pengembangan desa komoditas maritim berbasis budi daya kepiting soka (soft shell crab) yang telah berjalan sejak Juli 2025 melalui kolaborasi Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pelindo dengan pendampingan teknis IPB University.

Dr Irzal Effendi, pakar akuakultur dari IPB University yang turut terlibat sebagai tenaga ahli program, menjelaskan bahwa keberlanjutan menjadi fokus utama pendampingan ke depan. Hal tersebut agar Desa Totoran dapat benar-benar mapan sebagai desa komoditas berbasis kepiting soka.

“Capaian tahun pertama ini adalah fondasi. Fokus kami selanjutnya adalah memastikan skema pengembangan ini berjalan secara bertahap dan berkelanjutan, mulai dari penguatan kelembagaan kelompok, kemandirian sumber benih, hingga perluasan kemitraan pasar, sehingga Totoran dapat tumbuh menjadi desa komoditas kepiting soka yang mapan dan mandiri,” ujarnya.

Sejak diluncurkan, program ini telah membangun demplot budi daya dengan sistem silvofishery berbasis recirculating aquaculture system (RAS) berkapasitas 5.000 unit crab box yang dioperasikan masyarakat Kelompok Tani Pancer Berkah Bersama. 

Dr Irzal mengatakan, hasil budi daya menunjukkan kinerja yang baik, dengan tingkat kelangsungan hidup (survival rate) kepiting soka mencapai 77,41 persen, melampaui target awal program sebesar 65 persen. Dari kolam binaan tersebut, tercatat volume panen sebanyak 958 kilogram kepiting soka yang telah dipasarkan kepada mitra eksportir maupun pembeli lokal, dengan total nilai penjualan secara keseluruhan mencapai sekitar Rp103,6 juta.

Keberhasilan tersebut turut menarik minat investor lokal untuk mengembangkan unit budi daya secara mandiri, salah satunya Carma, yang kini telah berkembang dengan kapasitas sekitar 15.000 unit crab box, tiga kali lipat dari kapasitas kolam binaan program.

Di luar capaian produksi, program turut memperkuat tata kelola Kelompok Tani Pancer Berkah Bersama, yang kini telah memiliki struktur organisasi, pembagian peran, serta sistem pencatatan keuangan yang berjalan aktif. Ini merupakan sebuah perubahan signifikan dibandingkan kondisi sebelum program berjalan. Dampaknya juga meluas ke pengobor, tenaga kerja harian, dan ibu-ibu pengolah hasil perikanan.

Group Head Keberlanjutan Korporasi PT Pelindo, Usman Saroni, menyampaikan bahwa program di Totoran membuktikan bahwa dukungan korporasi terhadap komoditas unggulan daerah dapat memberi dampak nyata bagi pendapatan dan kualitas hidup masyarakat.

“Program ini membuktikan bahwa kolaborasi multipihak, antara dunia usaha, akademisi, dan masyarakat, dapat menghasilkan dampak yang nyata dan berkelanjutan bagi pengembangan ekonomi maritim di daerah,” ujarnya.

Kegiatan turut dihadiri tim TJSL Pelindo, Eko Sonia dan Achlakul Karim; tenaga ahli IPB University, Muhammad Qustam Sahibuddin, MSi; tim fasilitator LPA2I IPB University; perwakilan pemerintah desa; Ketua Kelompok Tani Pancer Berkah Bersama; serta anggota kelompok tani.

Ke depan, IPB University dan Pelindo berkomitmen untuk terus mendampingi keberlanjutan program, termasuk penguatan kemandirian sumber benih melalui pengembangan hatchery serta perluasan jaringan kemitraan pasar, sebagai bagian dari upaya menjadikan Desa Totoran sebagai model pengembangan desa komoditas maritim berbasis kolaborasi yang berkelanjutan. (*/Rz)