Usia 5,5 Tahun Sudah Masuk SD? Pakar IPB University: Kesiapan Anak Jauh Lebih Penting daripada Kecepatan

Usia 5,5 Tahun Sudah Masuk SD? Pakar IPB University: Kesiapan Anak Jauh Lebih Penting daripada Kecepatan

usia-5-5-tahun-sudah-masuk-sd-pakar-ipb-university-kesiapan-anak-jauh-lebih-penting-daripada-kecepatan
Ilustrasi: Magnific.com
Berita / Riset dan Kepakaran

Belakangan ini ramai diperbincangkan kebijakan yang memungkinkan anak usia 5,5 tahun masuk sekolah dasar (SD). Menanggapi hal tersebut, Prof Dwi Hastuti, Pakar Pengasuhan dan Perkembangan Anak IPB University, menilai bahwa usia bukanlah satu-satunya faktor yang perlu dipertimbangkan. Namun demikian, ia tetap memandang usia enam tahun sebagai batas yang lebih ideal untuk memasuki jenjang pendidikan dasar.

Menurutnya, ketentuan usia minimal enam tahun yang dianjurkan pemerintah didasarkan pada pertimbangan perkembangan anak. Pada usia tersebut, anak mulai mengalami transisi dari masa kanak-kanak awal menuju usia sekolah, ditandai dengan kematangan berpikir, sosial, dan emosional yang lebih baik.

“Kalau ada anak usia 5,5 tahun yang sudah menunjukkan kematangan sosial, emosional, dan kemandirian yang baik, mungkin bisa menjadi pengecualian. Namun secara umum, anak usia 5,5 tahun masih banyak yang belum cukup matang untuk menghadapi tuntutan sekolah dasar,” ujarnya.

Prof Tuti menjelaskan bahwa kesiapan masuk SD tidak hanya diukur dari kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. Ada enam aspek perkembangan yang perlu diperhatikan, yaitu kognitif, fisik-motorik, sosial, emosional, moral-spiritual, dan bahasa.

Dari sisi kognitif, anak yang siap masuk SD sudah mampu berpikir lebih konkret, menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi, serta mulai memiliki kemampuan berpikir kritis. Sementara dari aspek fisik-motorik, anak sudah mampu melakukan berbagai aktivitas secara mandiri, seperti menggunakan toilet, mencuci tangan, hingga mengikuti instruksi sederhana.

Kematangan sosial dan emosional juga menjadi indikator penting. Anak yang siap sekolah umumnya sudah mampu berbagi, bekerja sama, berempati, menghormati orang lain, serta mengendalikan emosinya dengan lebih baik. Menurut Prof Dwi, kemampuan-kemampuan tersebut merupakan bekal penting agar anak dapat beradaptasi dengan lingkungan sekolah dan proses belajar yang lebih terstruktur.

Sebaliknya, jika anak masuk SD sebelum siap secara perkembangan, terdapat sejumlah risiko yang dapat muncul. Salah satunya adalah menurunnya rasa percaya diri karena merasa tertinggal dibandingkan teman-teman sebayanya. Kondisi ini dapat memicu stres, perasaan minder, hingga meningkatkan risiko menjadi korban perundungan.

“Yang perlu dibangun pada anak bukan hanya kemampuan akademik, tetapi juga keterampilan hidup seperti percaya diri, empati, kemampuan mengendalikan diri, dan toleransi. Fondasi inilah yang akan mendukung keberhasilan anak dalam jangka panjang,” jelasnya.

Menurutnya, keputusan memasukkan anak ke SD sebaiknya didasarkan pada kesiapan perkembangan secara menyeluruh, bukan semata-mata usia atau kemampuan akademik awal.

Karena itu, Prof Tuti menilai bahwa memastikan anak benar-benar siap belajar dan berkembang jauh lebih penting dibandingkan mempercepat anak masuk sekolah.

“Lebih baik anak masuk SD ketika ia sudah matang, mandiri, dan percaya diri. Tujuan pendidikan bukan sekadar membuat anak cepat sekolah, tetapi membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang berkembang secara optimal,” pungkasnya. (Lp)