PKSPL IPB University Hidupkan Potensi Kepiting Bakau di Halmahera Timur
Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL) IPB University melakukan asesmen ilmiah untuk pengembangan program budi daya kepiting bakau (Scylla spp.) di Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara (3–7/6). Kegiatan ini menjadi langkah awal dalam merancang model pemberdayaan masyarakat pesisir berbasis ekonomi biru (blue economy) berkelanjutan.
Asesmen dilakukan bersama PT Aneka Tambang (ANTAM) Unit Bisnis Pertambangan Nikel (UBPN) Maluku Utara sebagai bagian dari program corporate social responsibility (CSR) dan pengembangan pemberdayaan masyarakat.
Tim ahli budi daya PKSPL IPB University yang terdiri atas Dr Irzal Effendi dan Muhammad Qustam Sahibuddin, MSi, melakukan survei di sejumlah wilayah pesisir yang memiliki potensi pengembangan kepiting bakau.
Dr Irzal menuturkan, survei dilakukan untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai potensi sumber daya, kondisi ekosistem mangrove, kesesuaian lokasi, aspek sosial ekonomi masyarakat, kelembagaan, hingga tata niaga kepiting bakau.
“Informasi ini penting agar diketahui tingkat kelayakan lokasi secara ekologis dan finansial, sekaligus untuk memetakan potensi risiko ekosistem maupun sosial demi menjamin keberhasilan program di masa mendatang. Di samping untuk mengetahui permasalahan dan seperti apa kebutuhan riil masyarakat sehingga kita bisa memilih metode pendekatan teknologi budi daya yang paling adaptif, efisien, dan mudah diadopsi oleh masyarakat setempat,” jelasnya.
Halmahera Timur memiliki potensi kepiting bakau yang melimpah. Kepiting bakau merupakan salah satu komoditas perikanan bernilai ekonomi tinggi dengan potensi pasar ekspor sangat besar dan bisa menjadi mesin ekonomi baru bagi masyarakat lokal.
“Kolaborasi ini merupakan manifestasi nyata dari sinergi pentahelix antara akademisi dan sektor industri. Melalui asesmen sains yang terukur ini, kami dan PT ANTAM UBPN Maluku Utara ingin memastikan bahwa budi daya kepiting bakau yang dikembangkan nantinya tidak hanya memberikan keuntungan ekonomi bagi warga, tetapi juga tetap menjaga kelestarian ekosistem pesisir secara jangka panjang,” ujar Qustam menambahkan.
Kegiatan asesmen dilakukan dengan metode rapid rural appraisal (RRA) hingga diskusi dan interview mendalam dengan tokoh masyarakat dan warga di lokasi survei. Survei dilakukan di beberapa lokasi yang memiliki potensi untuk kegiatan budi daya kepiting bakau.
Ke depan, program ini tidak hanya diarahkan pada peningkatan produksi melalui budi daya kepiting bakau, tetapi juga berpotensi dipadukan dengan kegiatan restocking guna menjaga keberlanjutan stok kepiting bakau di alam. (*/Rz)
