Dies Natalis ke-25 FEM IPB University: Dorong Transformasi Ekonomi yang Berkelanjutan dan Berkeadilan
Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University memperingati Dies Natalis ke-25 dengan mengusung tema “Towards Sustainable Economic Transformation” di Audit FEM, Kampus Dramaga (3/6).
Perayaan ini menjadi momentum refleksi atas perjalanan seperempat abad FEM sekaligus penguatan komitmen untuk terus berkontribusi dalam menghasilkan pendidikan, penelitian, dan inovasi yang mendukung pembangunan ekonomi Indonesia yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan.
Acara dihadiri oleh sivitas akademika, alumni, mitra, serta para pemangku kepentingan. Rangkaian meliputi penyampaian catatan kritis perekonomian Indonesia, peluncuran aransemen baru Mars FEM, penandatanganan kerja sama dengan Media Republika, peresmian ESPOLEA FEM x SSMI, peluncuran Orange Book FEM 2026, pemberian FEM Award, serta berbagai kegiatan apresiasi dan hiburan.
Dalam sambutannya, Dekan FEM IPB University, Prof Irfan Syauqi Beik, menyampaikan bahwa Dies Natalis ke-25 menjadi tonggak penting untuk memperkuat peran FEM dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan nasional. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk tidak hanya menghasilkan lulusan berkualitas, tetapi juga menghadirkan gagasan, inovasi, dan solusi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Sementara itu, Pelaksana tugas (Plt) Rektor IPB University, Prof drh Deni Noviana, menegaskan bahwa tema yang diangkat sangat relevan dengan kondisi global yang tengah menghadapi berbagai ketidakpastian ekonomi. Transformasi ekonomi, menurutnya, harus diarahkan pada pembangunan sistem yang lebih inklusif, tangguh, dan berbasis ilmu pengetahuan.
“Dalam konteks tersebut, FEM memiliki posisi strategis sebagai pusat pengembangan pemikiran dan solusi yang mampu menjawab berbagai persoalan bangsa. Saya mengapresiasi berbagai capaian FEM selama 25 tahun terakhir yang terus menunjukkan kontribusi nyata dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat,” ucapnya.
Catatan Kritis Kondisi Ekonomi Nasional
Salah satu agenda utama dalam perayaan ini adalah penyampaian Catatan Kritis terhadap Kondisi Perekonomian Indonesia oleh Prof Irfan Syauqi Beik. Dalam paparannya, ia menyoroti bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai sekitar 5,6 persen pada triwulan pertama tahun 2026 belum sepenuhnya mampu mengatasi ketimpangan distribusi kesejahteraan.
“Oleh karena itu, diperlukan pendekatan growth through equity, yaitu strategi pembangunan yang menjadikan pemerataan sebagai instrumen utama untuk menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan,” tandasnya.
Prof Irfan juga menyoroti perlambatan sektor manufaktur yang berpotensi memicu deindustrialisasi dini dan mengurangi kapasitas penciptaan lapangan kerja formal. Untuk itu, penguatan sektor riil serta peningkatan keterkaitan antara industri besar dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) perlu menjadi prioritas dalam pembangunan ekonomi nasional.
Selain itu, kebijakan suku bunga yang relatif tinggi dinilai dapat menekan aktivitas usaha, khususnya UMKM yang membutuhkan akses pembiayaan. Dalam hal ini, pengembangan sistem pembiayaan berbasis kemitraan dan bagi hasil, termasuk optimalisasi instrumen keuangan syariah, menjadi alternatif yang perlu diperkuat untuk mendukung sektor produktif.
Catatan kritis lainnya, optimalisasi instrumen keuangan sosial Islam seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf (Ziswaf) sebagai bagian dari strategi pengentasan kemiskinan dan penguatan perlindungan sosial. Transformasi sektor pertanian dan agribisnis melalui modernisasi teknologi, peningkatan produktivitas, kepastian akses lahan, dan pembiayaan yang adil bagi petani perlu terus didorong guna mewujudkan kemandirian pangan nasional.
Prof Irfan juga menekankan pentingnya memperkuat dimensi sosial dalam sistem keuangan nasional. Menurutnya, fungsi sosial perbankan perlu memperoleh perhatian yang lebih besar dan terukur dalam sistem pengawasan sektor keuangan.
“Oleh karena itu, fungsi sosial perlu dimasukkan ke dalam indikator penilaian tingkat kesehatan bank, baik pada bank konvensional maupun bank syariah, sehingga keberhasilan lembaga keuangan tidak hanya diukur dari aspek profitabilitas dan stabilitas, tetapi juga dari kontribusinya terhadap pemerataan ekonomi, inklusi keuangan, pemberdayaan masyarakat, dan peningkatan kesejahteraan sosial,”ujarnya.
Memasuki usia seperempat abad, FEM IPB University berkomitmen untuk terus berkontribusi dalam mendorong transformasi ekonomi Indonesia yang berkelanjutan, inklusif, tangguh, dan berkeadilan. (*/Rz)
