Jelang Iduladha, Himpunan Alumni IPB University Edukasi Masyarakat Standar Kurban Aman, Sehat, dan Halal

Jelang Iduladha, Himpunan Alumni IPB University Edukasi Masyarakat Standar Kurban Aman, Sehat, dan Halal

jelang-iduladha-himpunan-alumni-ipb-university-edukasi-masyarakat-standar-kurban-aman-sehat-dan-halal.jpg
Berita / Riset dan Kepakaran

Himpunan Alumni (HA) IPB University bekerja sama dengan Himpunan Alumni Fakultas Peternakan IPB (HANTER) menggelar webinar nasional bertajuk “Standar Penyembelihan Kurban Sesuai Prinsip Aman, Sehat, dan Halal” pada Jumat (15/5). 

Melalui webinar ini, peserta dibekali panduan komprehensif mulai dari hulu hingga hilir, yakni sejak pemilihan ternak hidup, teknik perlakuan hewan, proses penyembelihan, hingga manajemen limbah setelah pemotongan.

Ditinjau dari aspek seleksi ternak, pemilihan hewan kurban yang tepat sangat menentukan estimasi produksi daging yang akan didistribusikan. Dosen bidang pemuliaan ternak IPB University, Edit Lesa Aditya, SPt, MScAgr, menjelaskan bahwa akurasi penilaian fisik satwa kurban sangat krusial.

“Kalau sapi bobot sama, tapi posturnya beda, hasil dagingnya juga bisa berbeda sampai dua persen. Pilih yang kondisi badan sedang sampai gemuk supaya hasil dagingnya cukup banyak,” jelas Edit.

Ia juga mengingatkan panitia kurban agar tidak terkecoh oleh ukuran perut buncit satwa. “Jangan lihat perutnya karena perut bisa kosong kalau dipuasakan, lihat paha belakang dan bahu yang menumpuk daging,” tambahnya.

Dari aspek teknis eksekusi, trainer juru sembelih halal (Juleha) dari Halal Science Center (HSC) IPB University, Dr drh Supratikno, menggarisbawahi penerapan prinsip ihsan demi menjaga kesejahteraan hewan dan kehalalan daging. 

Menurutnya, mitigasi stres pada hewan wajib dilakukan melalui penanganan yang tenang, penggunaan fasilitas perobohan yang aman, serta pemakaian bilah tajam. “Tenangkanlah hewannya, tajamkanlah pisaunya, dan segerakan prosesnya. Sembelihan yang terbaik adalah secepat-cepatnya sembelihan,” tegas dia.

Ia memaparkan bahwa pemotongan harus dilakukan tepat di belakang jakun untuk memutus tiga saluran utama sekaligus secara cepat. Supratikno juga melarang keras praktik keliru yang sering dijumpai di lapangan. “Pisau tajam mengurangi rasa sakit hewan saat sembelih. Jangan tusuk dada karena itu mematikan hewan bukan karena sembelihan,” pungkasnya.

Sebagai tindak lanjut program, akan dilaksanakan pelatihan juru sembelih halal secara luring. Langkah berkelanjutan ini diharapkan mampu melahirkan ekosistem pelaksanaan kurban yang lebih higienis, tertib lingkungan melalui pengelolaan limbah jeroan yang benar, serta menjamin ketenteraman batin bagi umat yang berkurban. (MW)