IPB University, FIO Tiongkok, dan BRIN Resmi Luncurkan Ekspedisi Sains Laut Dalam CINODEX di Selat Sunda
IPB University bersama First Institute of Oceanography (FIO) Tiongkok, dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), secara resmi meluncurkan Ekspedisi CINODEX Selat Sunda, sekaligus menandai dimulainya CINODEX Cruise 2026.
Kolaborasi ilmiah internasional ini bertujuan untuk mengeksplorasi ekologi laut dalam dan bioprospek di kawasan Selat Sunda yang strategis.
Acara peresmian (14/5) digelar di Kampus IPB University, dihadiri oleh perwakilan FIO, Counsellor Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok di Indonesia Fu Junsheng, Sekretaris Ketiga Kedutaan Besar untuk bidang Sains dan Teknologi, Tuan Yu Jixuan, serta para peneliti dari BRIN, termasuk Ahmad Fathoni, Decky Indrawan, dan Dr Luki Subehi.
Ketua Penyelenggara CINODEX, Prof Agus Atmadipoera, menyatakan bahwa ekspedisi ini adalah wujud komitmen bersama untuk memajukan ilmu kelautan, memperkuat kerja sama internasional, serta menjawab tantangan global melalui riset dan inovasi.
Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University ini menambahkan, Selat Sunda dipilih karena memiliki arti strategis dan ilmiah yang penting. Kawasan ini merupakan rumah bagi Gunung Berapi Krakatau, menjadikannya laboratorium alami untuk ilmu kelautan, pemantauan akustik bawah laut, mitigasi bencana, dan pengelolaan laut berkelanjutan.
“Fokus utama ekspedisi ini adalah mengeksplorasi ekologi laut dalam, dimulai dari Selat Sunda bagian selatan Krakatau. Para peneliti akan mencari ventilasi hidrotermal yang biasanya diikuti oleh komunitas organisme laut dalam.
“Kita akan eksplorasi untuk tidak hanya ke biodiversitas, tetapi juga nanti ke arah bioprospek. Eksplorasi bioprospek ini berorientasi pada pengembangan produk, seperti enzim industri di masa depan,” kata dia.
Di samping itu, Rektor IPB University, Dr Alim Setiawan Slamet dalam sambutannya meyakini bahwa tantangan global memerlukan kemitraan yang kuat. Ekspedisi CINODEX merupakan jembatan penting bagi diplomasi ilmiah antara Indonesia dan Tiongkok. Rektor juga berharap ekspedisi ini dapat memberikan kesempatan bagi para ilmuwan muda, mahasiswa, dan tim teknis untuk saling belajar dan membangun jaringan kolaborasi jangka panjang.
Untuk fase Selat Sunda, ekspedisi ini melibatkan 24 peneliti, terdiri dari 8 orang dari FIO dan sisanya dari IPB University dan BRIN, termasuk para mahasiswa doktor dan magister. Kolaborasi riset ini direncanakan berlangsung selama 5 tahun. Setelah tahap pertama selesai, ekspedisi akan bergeser ke wilayah tengah dan timur Indonesia, seperti Laut Flores, Banda, dan Sangihe-Talaud, yang juga merupakan wilayah gunung berapi laut yang kaya ekosistem laut dalam. (dh)
