Memprediksi Masa Depan Pusat Inovasi Sains dan Teknologi Australia Pasca-PHK Massal
Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO) telah menjadi kebanggaan Australia. Selama puluhan tahun, lembaga riset ini menghadirkan berbaga inovasi mengagumkan yang banyak digunakan di seluruh dunia, seperti teknologi Wi-Fi, uang kertas polimer, dan vaksin Hendra.
Meskipun begitu, pemutusan hubungan kerja terhadap 350 pegawainya baru-baru ini menimbulkan kekhawatiran mengenai masa depan kapasitas riset dan inovasi Australia. Padahal, pemerintah baru saja menyuntikkan dana tambahan sebesar AUD 387,4 juta.
Menurut Prof Ronny Rachman Noor, peneliti IPB University, kondisi tersebut menjadi sinyal penting bagi masa depan ekosistem riset di Australia. “PHK besar-besaran di CSIRO sebenarnya bukan hanya karena kekurangan dana, tetapi juga bagian dari strategi restrukturisasi untuk menyesuaikan arah riset dengan prioritas pemerintah,” ujarnya.
Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari restrukturisasi strategis dengan fokus pada bidang prioritas pemerintah, seperti teknologi canggih, kesehatan, energi bersih, dan kesiapsiagaan pandemi.
Faktor lain adalah efisiensi organisasi. Di samping itu, tekanan kompetisi dengan perusahaan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) menyebabkan peringkat paten CSIRO di tingkat nasional menurun.
“Menurunnya jumlah paten dan tenaga ahli, dapat memperlambat proses hadirnya teknologi baru ke pasar dan pada akhirnya memengaruhi daya saing Australia di kancah internasional,” kata Prof Ronny.
Tak kalah penting, PHK besar-besaran di lembaga riset ternama bisa membuat publik merasa bahwa Australia kurang serius dalam mendukung penelitian dan pengembangan. Akibatnya, minat investasi swasta di sektor teknologi dapat menurun.
“Kita juga perlu khawatir dampaknya bisa berantai pada sektor industri lain, seperti pertanian, energi, dan kesehatan, yang sangat bergantung pada riset CSIRO. Oleh karena itu, inovasi mungkin akan tertunda dan biaya produksi meningkat, dan tentu saja, kita semua ingin menghindari hal tersebut,” tuturnya.
Menurutnya, masa depan CSIRO sangat bergantung pada kebijakan pemerintah Australia. Dengan dukungan fiskal, regulasi inovasi, dan insentif industri yang terus berjalan secara konsisten, CSIRO dapat menjadi motor utama dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi berbasis ilmu pengetahuan. Sebaliknya, jika kebijakan kerap bersifat jangka pendek dan kurang terkoordinasi, ada risiko CSIRO kehilangan peran pentingnya.
Di sisi lain, nasib CSIRO di masa depan juga bergantung pada kemampuan mereka dalam mengelola restrukturisasi dan membangun kolaborasi baru di luar. Jika strategi fokus baru ini berhasil, CSIRO berpotensi kembali menjadi pusat inovasi yang diakui secara global.
“Tapi jika restrukturisasi hanya berujung pada pengurangan kapasitas tanpa arah yang jelas, Australia dapat kehilangan salah satu aset riset terbesar yang dimilikinya,” tandas Prof Ronny. (*/Rz)
