Momen UTBK di IPB University: Dua Sosok Ibu Hebat Bertemu, Saling Menguatkan Demi Masa Depan Anak

Momen UTBK di IPB University: Dua Sosok Ibu Hebat Bertemu, Saling Menguatkan Demi Masa Depan Anak

momen-utbk-di-ipb-university-dua-sosok-ibu-hebat-bertemu-saling-menguatkan-demi-masa-depan-anak.jpg
Berita / Pendidikan

Pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer-Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) di IPB University tak hanya menjadi ajang perjuangan para peserta meraih masa depan. Di balik itu, tersimpan kisah-kisah penuh haru dari para orang tua yang setia mendampingi anak-anaknya.

Pagi itu, Sabtu (25/4) suasana kampus masih gelap ketika Robiah tiba bersama suaminya. Ia berangkat dari Bekasi sejak pukul 02.00 WIB, demi memastikan anaknya, Rizki Gina Lestari dari SMK Negeri 2 Bekasi, tidak terlambat mengikuti ujian. “Karena belum tahu lokasi, jadi kami berangkat lebih awal, yang penting anak tidak terlambat,” tuturnya.

Perjuangan Robiah tidak berhenti di situ. Sehari sebelum ujian, sang anak sempat dirawat di rumah sakit akibat tifus. Kekhawatiran sempat menyelimuti hati seorang ibu. Namun, dengan tekad, doa, dan semangat yang tak surut, Gina akhirnya mampu mengikuti ujian.

Robiah berharap, langkah anaknya yang ingin melanjutkan ke Sekolah Vokasi IPB pada Program Studi Manajemen Industri dapat menjadi jalan menuju masa depan yang lebih baik. “Saya ingin anak saya bisa lebih sukses dari orang tuanya,” ujarnya penuh harap.

Di sudut lain, Rina juga berangkat dari Parung, Bogor sejak pukul 03.30 WIB, mengantar putranya, Gio Marcelo dari SMA Negeri 2 Mejayan, Madiun.

Meski belum pernah melakukan survei lokasi, Rina memilih datang lebih awal demi memastikan anaknya bisa mengikuti ujian dengan tenang. Gio sendiri bercita-cita melanjutkan studi di salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung dengan jurusan Teknik Informatika.

Sebagai orang tua, Rina memiliki cara tersendiri dalam mendampingi anaknya. Ia memberikan les privat di rumah untuk membantu putranya memahami pelajaran, terutama matematika. Di tengah keterbatasan, ia bahkan mengurangi pekerjaannya demi fokus mendukung persiapan anak.

“Saya tidak mau memaksakan. Anak punya keinginannya sendiri. Yang penting dia punya bekal hidup dan bisa mandiri,” ungkapnya.

Rina juga menanamkan nilai ketegaran kepada anaknya. Baginya, keberhasilan bukan satu-satunya tujuan. “Kalaupun nanti belum berhasil, jangan sedih dan jangan putus asa. Saya tidak menuntut dia jadi yang terbaik, tapi jadi versi terbaik dari dirinya sendiri,” pesannya.

Menariknya, Robiah dan Rina sebelumnya tidak saling mengenal. Namun, dalam momen menunggu anak-anak mereka mengikuti ujian, keduanya saling berbagi cerita. Tentang perjuangan, harapan, dan cinta seorang ibu.

Percakapan sederhana itu menjadi penguat di antara mereka. Di tengah rasa cemas yang sama, lahir empati dan dukungan yang tulus.

Momen UTBK di IPB University pun menjadi lebih dari sekadar ujian. Ia menjadi ruang pertemuan bagi para orang tua untuk saling menguatkan, berbagi cerita, dan meneguhkan peran mereka sebagai sosok yang selalu berdiri di belakang perjuangan anak-anaknya. (Lp)