Masih Gemar Beli Baju karena Tren? Prof Ujang Sumarwan Ajak Terapkan Green Lifestyle lewat Pilihan Berpakaian
Sebagian besar orang, termasuk dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan di IPB University, mungkin sudah banyak yang peduli lingkungan. Namun, apakah kepedulian itu ikut terbawa saat membeli baju? Jawabannya, belum tentu.
Prof Ujang Sumarwan sebagai ahli perilaku konsumen, menjelaskan bahwa kesadaran lingkungan belum tentu sejalan dengan perilaku membeli pakaian. Alasannya bermacam-macam, mulai dari soal harga hingga terbatasnya pilihan produk.
Menurutnya, kondisi itu menunjukkan belum konsistennya hubungan antara sikap dan perilaku. Idealnya, sikap positif terhadap lingkungan diterapkan dalam tindakan sehari-hari, termasuk saat memilih pakaian. Karena itu, perilaku membeli dan memperlakukan pakaian menjadi bagian penting dari upaya mewujudkan green lifestyle dan green campus.
Mengapa Sulit Memilih Baju Ramah Lingkungan?
Isu lingkungan kini makin sering diperbincangkan, salah satunya soal limbah pakaian yang kian meresahkan. Namun nyatanya, kebiasaan belanja seseorang tidak otomatis berubah hanya karena satu hal: kepedulian.
“Ada beberapa faktor,” kata Prof Ujang. “Pertama, harga pakaian ramah lingkungan relatif lebih mahal dibandingkan dengan pakaian berbahan konvensional. Kedua, pilihan pakaian ramah lingkungan mungkin tidak sebanyak pakaian berbahan konvensional,” jelasnya.
Dua hal itu, daya beli dan keragaman produk, kata Prof Ujang, menjadi penghambat. Faktor lain adalah informasi. Pengetahuan tentang pakaian ramah lingkungan beserta jenisnya masih perlu disebarluaskan agar konsumen punya cukup bahan pertimbangan. Kebiasaan mengikuti tren juga perlu diperhatikan.
Baju Lama Baiknya Dikemanakan?
Soal baju yang tak lagi dipakai, Prof Ujang menyarankan agar memberikan atau menyumbangkannya. Bisa pula dengan menjualnya kembali lewat pasar preloved, istilah yang menurutnya dipilih pegiat ramah lingkungan untuk barang yang “dicintai”.
Tujuannya, memperpanjang masa pakai pakaian dan bermanfaat bagi orang lain. “Saya sendiri diberikan kepada yang lain,” ujarnya.
Peran Kampus
Pakaian, kata Prof Ujang, termasuk produk yang paling sering dibeli setelah makanan dan minuman. Oleh sebab itu, cara membeli, memakai, dan memperlakukannya perlu mendapat perhatian. Ia menyarankan perguruan tinggi, pegiat perlindungan konsumen, kementerian yang membidangi lingkungan hidup, dan perusahaan berkolaborasi dalam kampanye dampak lingkungan produk pakaian.
“Perguruan tinggi juga perlu mendorong pengembangan bahan baku pakaian yang lebih ramah lingkungan, dan desainer perlu memikirkan cara membuatnya tetap menarik. Edukasi diperlukan agar baju bekas tidak langsung menjadi limbah,” sebut Prof Ujang.
Ajakan untuk Warga Kampus
Green campus tidak hanya soal pohon dan fasilitas, tetapi juga kebiasaan sehari-hari seluruh warga. Sebelum membeli baju berikutnya, warga IPB University bisa mencoba: menimbang kebutuhan sebelum membeli, lalu menyalurkan baju yang tak terpakai kepada orang lain.
Atau, mencari tahu pilihan pakaian ramah lingkungan, serta memanfaatkan pasar preloved untuk membeli maupun menjual. Tak kalah penting, berbagi informasi tentang pakaian ramah lingkungan kepada rekan sejawat. “Semoga konsumen kita semakin sadar terhadap lingkungan,” tutup Prof Ujang.
