IPB University dan Agrinas Palma Indonesia Bahas Pengembangan Bioetanol Berbasis Jagung, Sorgum, dan Singkong
Fakultas Pertanian (Faperta) IPB University bersama PT Agrinas Palma Indonesia menggelar focus group discussion (FGD) membahas pengembangan industri bioetanol berbasis jagung, sorgum, dan singkong. Pembahasan mencakup aspek produksi, pengolahan, serta kelayakan ekonomi sebagai bagian dari upaya mendukung swasembada energi nasional.
Berbasis Ilmiah dan Multidisiplin
Mengawali diskusi, Wakil Rektor IPB University Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan Prof Deni Noviana menyatakan, pengembangan kebijakan energi, termasuk bioetanol, perlu didukung kajian berbasis bukti ilmiah (scientific evidence-based) dan melibatkan berbagai kompetensi lintas disiplin.
“Pendekatan multidisiplin penting karena pengembangan bioetanol tidak hanya berkaitan dengan produksi bahan baku, tetapi juga pengolahan, ekonomi, hingga keberlanjutan,” ujarnya pada kegiatan yang berlangsung di Gedung Startup Center, Kampus IPB Taman Kencana, Bogor (3/10).
Prof Deni menambahkan, kajian bioetanol juga sejalan dengan arah riset IPB University yang bertumpu pada lima pilar strategis, yakni pertanian adaptif iklim, varietas tahan cekaman, ekonomi biru, bioekonomi sirkular, dan one health. Dalam konteks bioetanol, pemanfaatan biomassa secara berjenjang melalui pendekatan bioekonomi sirkular menjadi salah satu aspek yang penting dikembangkan.
Berbasis Multifeedstock
Dekan Faperta IPB University, Prof Suryo Wiyono mengatakan kolaborasi dengan Agrinas Palma Indonesia diarahkan untuk menghasilkan kajian yang konkret dan detail terkait produksi, pengolahan, dan analisis ekonomi bioetanol berbasis multifeedstock.
“Ini adalah kerja sama antara Fakultas Pertanian dengan Agrinas Palma Indonesia untuk memberikan masukan terkait produksi, pengolahan, dan juga analisis ekonomi bioetanol berbasis multifeedstock, sorgum, singkong, dan juga jagung,” katanya.
Ia menyatakan kesiapan Faperta IPB University dalam mendukung pengembangan kajian melalui kompetensi yang dimiliki, terutama dalam aspek produksi bahan baku pertanian. Hasil kajian diharapkan dapat mendukung terwujudnya swasembada energi, khususnya melalui pengembangan bioetanol.
Penuhi Kebutuhan Nasional
Direktur PT Agrinas Palma Indonesia, Dr Muhammad Abdul Ghani menjelaskan kebutuhan bioetanol nasional cukup besar seiring dengan target peningkatan pemanfaatan energi terbarukan. Dengan konsumsi bensin sekitar 35 juta kiloliter dan target campuran bioetanol 20 persen, kebutuhan bioetanol dapat mencapai sekitar 7 juta kiloliter.
“Kalau 7 juta dari mana sumbernya? Dari tebu hampir pasti tidak bisa diharapkan untuk bioetanol. Karena itu, kami melihat perlu ada sumber bahan baku lain,” ujarnya.
Agrinas Palma Indonesia kini memetakan potensi lahan yang dapat dikembangkan untuk mendukung produksi bioetanol, terutama di wilayah Sumatra dan Kalimantan, dengan memprioritaskan pemanfaatan lahan mineral dan tidak menggunakan lahan gambut.
Menurutnya, penggunaan multifeedstock menjadi salah satu pendekatan penting agar pasokan bahan baku dapat disesuaikan dengan karakteristik lahan dan potensi masing-masing wilayah.
“Kalau bisa, kita pakai multifeedstock. Kalau singkong mungkin lebih banyak lahan yang bisa ditanam singkong. Tapi kalau jagung dan sorgum, itu mungkin lebih ada handicap-nya, tidak semua bisa ditanam,” katanya.
Kolaborasi tersebut diharapkan menghasilkan kajian menyeluruh mengenai kelayakan agronomi on-farm dan off-farm, teknologi pengolahan, serta keekonomian industri bioetanol berbasis jagung, sorgum, dan singkong. Kajian ini selanjutnya diharapkan dapat menjadi masukan dalam pengembangan kebijakan dan industri bioetanol nasional. (AS)
