Tanah Bekas Tambang Miskin Spesies? Begini Temuan Dosen IPB University di Poboya Sulteng

Tanah Bekas Tambang Miskin Spesies? Begini Temuan Dosen IPB University di Poboya Sulteng

tanah-bekas-tambang-miskin-spesies-begini-temuan-dosen-ipb-university-di-poboya-sulteng-1
Foto: Kompas/Videlis Jemali
Berita / Riset dan Kepakaran

Lahan bekas tambang kerap dipandang sebagai lingkungan yang telah kehilangan kehidupan. Namun, penelitian dosen IPB University terhadap DNA tanah Poboya, Sulawesi Tengah, menunjukkan bahwa komunitas mikroba di dalamnya masih memiliki kemampuan bertahan dan berpotensi mendukung pemulihan lingkungan.

Dr Rahadian Pratama, peneliti IPB University dari Departemen Biokimia mengungkapkan bahwa penutupan vegetasi (vegetation cover) justru menjadi faktor dominan yang memicu pemulihan komunitas bakteri tanah, dibandingkan riwayat pertambangan itu sendiri. 

“Tanah bekas tambang ternyata tidak sepenuhnya miskin spesies. Penanaman kembali atau revegetasi menjadi jalur yang sangat potensial untuk pemulihan mikroba di lahan bekas tambang,” ungkapnya.

Temuan tersebut diperolehnya melalui analisis mikrobioma tanah menggunakan teknologi Oxford Nanopore Sequencing (ONT) dan pendekatan metagenomik di kawasan konsesi tambang emas Poboya.

Mikroba dengan Potensi Unik
Melalui analisis sekuensing terhadap sampel tanah, tim peneliti berhasil mengidentifikasi konsorsium mikroba yang memiliki perangkat metabolik (metabolic toolkit) unik untuk bertahan hidup di lingkungan tercemar.

Salah satunya adalah isolat bakteri seperti Variovorax. Analisis genomik menunjukkan bakteri tersebut membawa gen-gen pengurai polutan, gen resistensi logam berat, serta penyerap besi (siderophores). Bakteri ini juga dilengkapi gen pendorong pertumbuhan tanaman (plant-growth promotion).

“Analisis genom ini memberikan bukti konkret mengenai potensi bioremediasi asli dari tanah Sulawesi. Ini menjadi petunjuk nyata untuk memulihkan tanah yang terdampak aktivitas pertambangan sekaligus meningkatkan produktivitas tanaman di sekitarnya,” tambahnya.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas pertambangan tidak serta-merta membuat tanah kehilangan seluruh potensi mikrobiologisnya. Penutupan vegetasi menjadi salah satu faktor penting yang berkaitan dengan pemulihan komunitas bakteri tanah.

Wallacea Sumber Genom
Dr Rahadian juga menekankan bahwa tanah di kawasan Wallacea merupakan sumber daya genom yang sangat kaya, tetapi belum banyak tereksplorasi. Karena itu, pemantauan mikrobioma dinilai penting tidak hanya pada area bekas tambang, tetapi juga pada lahan yang mengalami alih fungsi menjadi pertanian.

Temuan tersebut dipaparkan Dr Rahadian dalam webinar bertajuk “Ketika Vegetasi ‘Menyamarkan’ Jejak Tambang: Kisah DNA Tanah Poboya” yang diselenggarakan Departemen Biokimia IPB University bekerja sama dengan Dynata Inovasi Corporalab secara daring, belum lama ini.

Webinar diikuti peneliti, mahasiswa, hingga praktisi laboratorium yang mendapatkan gambaran mengenai aplikasi praktis sekuensing Nanopore untuk mengungkap keanekaragaman hayati dan bioprospeksi lingkungan di Indonesia. (MW)