Pakar Oseanografi IPB University: Pola Arus Laut Bawa Jasad Korban Kapal Hingga ke Pulau Enggano
Pakar Oseanografi IPB University, Prof Agus Saleh Atmadipoera, memberikan analisis teknis terkait pergerakan objek dan jasad korban kapal yang terbawa arus laut dari kawasan Selat Sunda hingga ke Pulau Enggano.
Menurut Prof Agus, dinamika pergerakan kapal yang mengalami masalah di laut sangat dipengaruhi oleh kombinasi faktor alam, antara lain gelombang, angin, dan pergerakan arus yang kuat.
“Kapal itu dianggap mesinnya mati, jadi objek yang terapung. Posisi terakhir pasti tidak fixed karena terbawa arus,” ujarnya saat diwawancara di salah satu channel televisi, Kamis (24/9).
Ia melanjutkan, berdasarkan pemodelan dinamika laut pada bulan September, pergerakan arus memang mengarah kuat ke barat laut menuju perairan Enggano.
“Begitu keluar Selat Sunda, arus sedang kencang-kencangnya dari arah timur, tertarik sampai ke Enggano. Tanggal 7 sampai 12 itu perkiraannya kapal sudah terbawa arus ke Enggano,” terangnya.
Dalam kurun waktu sekitar dua hari sejak berlayar dari kawasan sekitar Krakatau, objek terapung diperkirakan sudah mulai memasuki kawasan Samudra Hindia. Penemuan jenazah korban pada hari ke-12 menjadi bukti nyata yang memperkuat jalur lintasan arus tersebut.
Ia juga menjelaskan adanya perbedaan pola lintasan yang ditentukan oleh posisi awal kapal di transek Selat Sunda. Jika kapal berada di sisi utara Selat Sunda, objek akan terbawa arus langsung menuju Pulau Enggano. Namun, jika berada di sisi selatan yang berbatasan langsung dengan kawasan Krakatau, terdapat dua sumbu arus dengan pola pergerakan yang berputar-putar.
Guna menunjang proses pencarian kapal maupun korban lainnya, Prof Agus menyampaikan bahwa pihak IPB University siap berkolaborasi menggunakan teknologi pemetaan satelit.
“Bisa berkolaborasi dengan IPB, ada fasilitas untuk pemetaan 12 satelit beresolusi tinggi untuk mendeteksi kapal-kapal yang ada di sekitaran Selat Sunda dan Krakatau,” ungkapnya. Meski sempat menghadapi kendala tutupan awan pada ekspedisi sebelumnya, pemantauan berkala akan terus diupayakan.
Ia menyarankan agar tim gabungan SAR dan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) memanfaatkan pola pergerakan arus ini sebagai acuan utama untuk menyusun probability search area agar pemetaan wilayah pencarian lebih terfokus dan efektif. Selain itu, koordinasi intensif dengan para nelayan lokal yang beroperasi di wilayah penangkapan sekitar Selat Sunda hingga Enggano juga dinilai sangat krusial. (MW)
