Kolaborasi Riset NbS, Mahasiswa IPB dan Waterloo Rancang Sistem Peringatan Dini Banjir dan Kebakaran
Kolaborasi lintas disiplin antara Fakultas Kehutanan dan Lingkungan (FAHUTAN) IPB University dan University of Waterloo, Kanada sukses menghasilkan sejumlah riset hingga inovasi teknologi untuk menjawab tantangan restorasi ekosistem dan risiko bencana.
Melalui program magang internasional ‘FINCAPES Project’, mahasiswa IPB University dan University Waterloo mengembangkan riset Nature-based Solutions (NbS), pembiayaan iklim, serta sistem peringatan dini banjir dan kebakaran berbasis internet of things (IoT).
Kegiatan penelitian berpusat di IPB Centre for Applied Research in Nature-based Solutions (I-CAN) Living Laboratory yang berlokasi di Jambi dan Lampung. I-CAN merupakan pusat riset multidisiplin yang menjadi wadah kolaborasi antara akademisi, mahasiswa, praktisi, peneliti, dan masyarakat lokal dalam menghasilkan solusi berbasis ilmu pengetahuan untuk menjawab berbagai tantangan lingkungan dan sosial-ekonomi di tingkat tapak.
Sistem Peringatan Dini Bencana
Salah satu capaian kolaborasi ini adalah pengembangan DIY Flood and Fire Early Warning System (FFEWS), sistem peringatan dini yang dirancang agar terjangkau dan dapat diterapkan di wilayah dengan keterbatasan infrastruktur. Hingga Agustus 2026, arsitektur sistem dan desain perangkat keras telah selesai dikembangkan, sementara prototipe sensor IoT berhasil dirakit untuk diuji coba di Muaro Jambi.
Dalam pengembangannya, mahasiswa University of Waterloo mengembangkan sistem digital, web dashboard, API, basis data, konektivitas perangkat IoT dan cloud, serta sistem notifikasi otomatis. Sementara mahasiswa Indonesia merakit sensor, memasang modul komunikasi, mengintegrasikan panel surya dan baterai, hingga melakukan pengujian dan pemasangan perangkat di Sungai Gelam dan Tangkit, Kabupaten Muaro Jambi.
“Kolaborasi dengan University of Waterloo melalui FINCAPES Project memperkuat komitmen FAHUTAN IPB University untuk mengintegrasikan pendidikan, riset terapan, dan inovasi dalam menjawab tantangan perubahan iklim. I-CAN Living Laboratory menjadi ruang penting untuk memastikan bahwa solusi berbasis alam tidak berhenti pada tataran konsep, tetapi diuji bersama masyarakat,” ujar Prof Dodik Ridho Nurrochmat, Dekan FAHUTAN IPB University.
Kolaborasi dilaksanakan melalui skema Cooperative Education (Co-op) University of Waterloo, yaitu model pendidikan yang memadukan pembelajaran akademik dengan pengalaman profesional dalam lingkungan kerja nyata. Sebanyak enam mahasiswa University of Waterloo dari bidang Environment and Business, Geography, Computer Engineering, Electrical and Computer Engineering, serta Data Science terlibat dalam program ini.
Selain teknologi peringatan dini, mahasiswa juga mengembangkan model Results-Based Management (RBM), melakukan penelitian sosioekologi di kawasan mangrove, memetakan peluang pendanaan, serta mempelajari pembiayaan iklim bersama Purnomo Yusgiantoro Center (PYC).
“Kerja sama ini memperluas ekosistem pendidikan dan penelitian melalui program magang internasional, pembelajaran lapangan, penelitian sosioekologi, pembiayaan iklim, hingga inovasi sistem peringatan dini berbasis IoT,” jelas Dr Dede Aulia Rahman, Wakil Dekan FAHUTAN IPB University Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni.
Bagi mahasiswa University of Waterloo dan Indonesia, program ini menjadi ruang pembelajaran transformatif untuk memahami bahwa tantangan lingkungan yang kompleks hanya dapat dijawab melalui kerja sama lintas disiplin, lintas institusi, dan lintas negara.
Ke depan, FAHUTAN IPB University berharap kemitraan ini dapat diperluas menjadi kolaborasi pendidikan dan penelitian jangka panjang, termasuk melalui pengembangan publikasi bersama, inovasi teknologi, pertukaran mahasiswa dan peneliti, serta replikasi model NbS di berbagai lanskap prioritas di Indonesia. (*/Rz)
