Pakar IPB University Ungkap Potensi Cyber Tongue, Inovasi Kreatif Penyelamat Industri Susu
Industri susu nasional masih menghadapi berbagai tantangan dalam menjaga kualitas produk. Hal ini terutama karena sebagian besar produksi berasal dari peternakan skala kecil.
Tantangan tersebut meliputi pencampuran bahan ilegal, pemeliharaan rantai pendingin, serta kebersihan proses produksi. Saat ini, susu lokal hanya mampu memenuhi 20 persen kebutuhan industri, sementara 80 persen lainnya berasal dari impor. Di tengah kondisi itu, teknologi biosensor Cyber Tongue dari Australia dinilai bisa menjadi salah satu alternatif solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut.
Menurut Pakar Genetika Ekologi IPB University, Prof Ronny Rachman Noor, teknologi biosensor Cyber Tounge yang diciptakan para peneliti Australia bisa menjadi solusi mengatasi kualitas susu. Inovasi ini mampu mendeteksi enzim perusak susu secara cepat dan akurat.
“Cyber Tongue berpotensi menyelamatkan industri susu. Inovasi ini membantu mengurangi limbah susu yang belum memenuhi standar karena mampu mendeteksi kontaminan dengan cepat. Jadi, Cyber Tongue bisa jadi solusi untuk tingkatkan kualitas susu lokal, kurangi limbah, dan perkuat daya saing susu di pasar, terutama dalam menghadapi susu impor,” jelasnya.
Keunggulannya dibandingkan dengan metode konvensional meliputi kecepatan, akurasi yang tinggi, dan kemampuannya untuk digunakan langsung di tempat produksi. “Singkatnya, Cyber Tongue seperti lidah elektronik yang ‘merasakan’ kualitas susu secara langsung, sehingga memungkinkan industri membuat keputusan yang tepat sebelum susu dibuang,” urai Prof Ronny.
Cyber Tongue
Teknologi ini dikembangkan oleh PPB Technology di Canberra, berdasarkan penelitian Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO). Prof Ronny mengatakan, pada dasarnya teknologi ini menggunakan biosensor berbasis protein yang bekerja berdasarkan prinsip bioluminescence resonance energy transfer (BRET). Inovasi ini memungkinkan deteksi enzim protease (AprX) yang menyebabkan susu cepat rusak, serta kontaminan lain dalam produk susu.
“Cara kerja Cyber Tongue sangat menarik karena menggabungkan bioteknologi dengan sensor optik untuk mendeteksi kontaminan susu dengan cepat. Kualitas susu dapat diperiksa hanya dalam tiga menit, jauh lebih cepat daripada metode laboratorium yang memakan waktu 2–3 hari,” tutur Prof Ronny.
Deteksi cepat ini, sebut dia, memungkinkan susu dengan kadar protease tinggi tidak dibuang, melainkan diolah menjadi keju atau yogurt, sehingga lebih hemat dan ramah lingkungan.
“Dalam industri susu, sampel diambil langsung di pabrik dan diuji cepat dengan Cyber Tongue untuk hasil instan. Jika protease tinggi, susu dialihkan menjadi produk fermentasi. Jika rendah, aman untuk proses UHT atau distribusi jangka panjang,” tambahnya.
Selamatkan 70 Ton Susu
Food and Agriculture Organization (FAO) memperkirakan produksi susu dunia mencapai 979 juta ton pada tahun 2024. Studi dari sebuah lembaga penelitian susu dan makanan independen Belanda, NIZO, menunjukkan bahwa hingga seperenam dari susu tersebut terbuang, atau lebih dari 150 juta ton.
Selain cepat dalam menganalisis, Cyber Tongue juga memungkinkan pengujian langsung di lapangan. Teknologi ini dapat mendeteksi berbagai kontaminan seperti protease, laktosa, alergen, dan toksin. Berdasarkan estimasi tim pengembangnya, semua keunggulan yang dimiliki Cyber Tongue dapat mencegah lebih dari 70 juta ton susu terbuang setiap tahunnya.
“Inovasi ini memberi semangat dan harapan baru dalam industri susu, berpotensi menjadi standar pengujian global, serta mendukung keberlanjutan pangan dengan mengurangi limbah susu,” tutup Prof Ronny.
