IPB University dan Prancis Kembangkan Beras Fortifikasi untuk Perkuat Program Pemenuhan Gizi Nasional
Lembaga Riset Internasional untuk Pangan, Gizi, Kesehatan, dan Halal (LRI PGKH) IPB University menandatangani kerja sama ilmiah Indonesia–Prancis bertajuk FORTRIZ (Fortified Rice for Nutrition) yang berfokus pada pengembangan inovasi beras fortifikasi untuk mendukung berbagai program pemenuhan gizi nasional di Indonesia.
Kerja sama tersebut ditandatangani oleh Kepala LRI PGKH IPB University, Prof Erika Budiarti Laconi, bersama Duta Besar Prancis untuk Indonesia sekaligus Presiden dan CEO Institut de Recherche pour le Développement (IRD), Valerie Verdier, di Jakarta (4/6).
“Kolaborasi ini bertujuan mengembangkan dan menguji beras yang diperkaya vitamin dan mineral guna meningkatkan asupan zat gizi penting bagi anak usia sekolah. Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya berbasis riset untuk mendukung peningkatan kualitas gizi anak Indonesia melalui penyediaan pangan yang lebih bernutrisi,” sebut Prof Erika.
Peluncuran FORTRIZ dilakukan dalam rangka Tahun Inovasi Indonesia–Prancis 2026 sekaligus memperingati 50 tahun kehadiran IRD di Indonesia. Program ini juga mencerminkan penguatan kemitraan ilmiah antara Indonesia dan Prancis dalam menjawab tantangan gizi masyarakat.
Sementara itu, Valerie Verdier menilai kolaborasi ini memiliki relevansi yang tinggi terhadap kebutuhan Indonesia saat ini.
“Program ini sangat relevan karena defisiensi mikronutrien masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang penting di kalangan anak-anak Indonesia,” ujarnya.
FORTRIZ merupakan kolaborasi antara IRD Prancis, South-East Asia Food And Agricultural Science and Technology (SEAFAST) Center IPB University, Savica, dan World Food Programme (WFP). Kemitraan ini menggabungkan kapasitas penelitian, teknologi pangan, pengalaman implementasi program makanan sekolah, serta dukungan kebijakan.
Dalam pelaksanaannya, FORTRIZ akan mengembangkan kernel beras terfortifikasi, mengoptimalkan proses produksi lokal, menguji retensi vitamin dan mineral, menilai kualitas pencampuran, serta mengevaluasi tingkat penerimaan beras fortifikasi di kalangan anak sekolah.
Selain mendukung perbaikan gizi, program ini juga diarahkan untuk memperkuat pembangunan sumber daya manusia dan pemberdayaan perempuan. FORTRIZ akan meningkatkan kapasitas petugas dapur sekolah dan pengelola makanan melalui pelatihan terkait gizi, keamanan pangan, dan fortifikasi pangan.
Hasil penelitian tersebut diharapkan dapat menjadi dasar ilmiah bagi perluasan penggunaan beras fortifikasi dalam berbagai program pemenuhan gizi nasional, termasuk program pangan dan gizi yang menyasar anak usia sekolah serta kelompok rentan lainnya. Dalam jangka panjang, kolaborasi ini diproyeksikan memberikan manfaat bagi jutaan anak dan keluarga di Indonesia melalui peningkatan akses terhadap pangan bergizi serta mendukung terwujudnya generasi Indonesia yang lebih sehat, produktif, dan berdaya saing.
“FORTRIZ lebih dari sekadar program gizi. Ini merupakan komitmen bersama Indonesia dan Prancis untuk mengubah kerja sama ilmiah menjadi dampak nyata bagi masyarakat, mulai dari meningkatkan kesehatan anak, memperkuat kapasitas lokal, memberdayakan masyarakat, hingga membangun masa depan Indonesia yang lebih sehat,” demikian disampaikan dalam penutupan peluncuran program tersebut. (dh)
