Bawa Cabai dan Tomat, Petani Desa Penyangga TNGHS Konsultasikan Hama dan Penyakit ke Pakar IPB University
Sejumlah petani desa penyangga Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) memperoleh kesempatan untuk berkonsultasi langsung dengan dua pakar IPB University. Sebagian dari mereka bahkan membawa langsung tanaman seperti cabai dan tomat yang mengalami serangan hama dan penyakit untuk diidentifikasi lebih lanjut.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Peningkatan Kapasitas Petani Desa Penyangga TNGHS dalam Pengelolaan Lahan Berkelanjutan, Langkah Persiapan Menuju Pengusulan Areal Preservasi yang dilaksanakan oleh Implementing Partner FOLU Net Sink Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (KSHE) IPB University.
Para peserta memanfaatkan kesempatan ini untuk berkonsultasi mengenai gejala yang muncul pada tanaman mereka, mulai dari perubahan warna daun, serangan serangga, hingga penyakit yang menyebabkan penurunan produktivitas.
Melalui sesi konsultasi tersebut, petani memperoleh penjelasan mengenai gejala serangan, penyebab, hingga langkah pengendalian yang sesuai dengan kondisi tanaman di lapangan. Pelatihan diikuti oleh petani dari empat desa intervensi program, yakni Desa Cihamerang, Kabandungan, Cipeuteuy, dan Mekarjaya.
Hadir sebagai narasumber, pakar entomologi Bonjok Istiaji, SP, MSi serta pakar fitopatologi dan mikologi Dr Efi Toding Tondok. Keduanya merupakan dosen Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian IPB University. Narasumber memberikan penjelasan mengenai teknik identifikasi dini, faktor penyebab, serta langkah-langkah pengendalian yang dapat diterapkan sesuai kondisi di lapangan.
Petani Pahwalan Lingkungan
Dalam pemaparannya, Bonjok Istiaji menjelaskan bahwa perubahan iklim turut memengaruhi perkembangan hama dan penyakit tanaman. Perubahan suhu, curah hujan, dan kondisi lingkungan lainnya dapat memicu munculnya jenis serangan baru maupun meningkatkan intensitas serangan organisme pengganggu tanaman yang selama ini telah dikenal petani.
Menurutnya, peningkatan kapasitas petani dalam mengenali dan mengendalikan hama serta penyakit tanaman menjadi semakin penting di tengah tantangan perubahan iklim yang terus berlangsung. Ia juga mengaitkan pentingnya pengelolaan lahan berkelanjutan dengan upaya mitigasi perubahan iklim yang menjadi bagian dari program FOLU Net Sink.
“Yang perlu terus dilakukan adalah menanam dan menjaga tanaman. Selain menghasilkan pangan, tanaman juga berperan dalam menyerap karbon dari atmosfer. Petani sejatinya merupakan pahlawan lingkungan karena tidak hanya menghasilkan produk pertanian untuk masyarakat, tetapi juga membantu menyediakan udara yang lebih segar dan menciptakan lingkungan yang lebih nyaman,” ujar Bonjok.
Sementara itu, Camat Kabandungan, Lilih Resmiati, SKM, STrKeb, MSi, yang hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan apresiasinya. “Pelatihan ini sangat sesuai dengan kebutuhan petani. Pengetahuan mengenai pengendalian hama dan penyakit tanaman merupakan investasi jangka panjang yang penting bagi keberlanjutan usaha tani.
“Program FOLU Net Sink juga menjadi contoh yang baik dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan sekaligus meningkatkan kapasitas masyarakat,” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, Departemen KSHE IPB University berharap, pengetahuan yang diperoleh peserta dapat diterapkan secara langsung di lahan masing-masing sehingga mampu meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus mendukung upaya konservasi di kawasan desa penyangga TNGHS. (*/Rz)
