IPB University Peringati 100 Tahun Sajogyo ‘Bapak Sosiologi Pedesaan Indonesia’
IPB University memperingati 100 tahun kelahiran Prof Sajogyo melalui rangkaian konferensi internasional dan kegiatan akademik pada 18–23 Mei 2026.
Momentum ini menjadi upaya untuk menghidupkan kembali pemikiran kritis Sajogyo mengenai pembangunan pertanian, kemiskinan, dan keadilan sosial di tengah tantangan krisis pangan, ketimpangan desa-kota, hingga perubahan iklim global.
Mengutip laman museum.ipb.ac.id, sosok bernama asli Sri Kusumo Kampto Utomo ini merupakan salah satu tokoh yang memiliki pengaruh besar terhadap sejarah perkembangan IPB University. Ia lahir di Karanganyar-Kebumen pada 21 Mei 1926.
Perjalanan hidup seorang Sajogyo seolah tidak pernah terlepas dari kontribusi, terutama dalam sosial dan pertanian. Pada 1980, ia menggagas “Ekonomi Pedesaan”. Dari kiprahnya itu membuat para murid dan kolega menyematkan julukan kepada Sajogyo sebagai “Bapak Sosiologi Pedesaan Indonesia”.
Kepala Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3) IPB University, Dr Ivanovich Agusta menyampaikan bahwa pemikiran Sajogyo masih sangat relevan untuk menjawab berbagai persoalan pembangunan saat ini.
Menurutnya, pembangunan tidak hanya harus berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada keadilan sosial dan keberpihakan terhadap masyarakat lapisan bawah.
“Pemikiran Sajogyo mengingatkan kita bahwa pembangunan harus berpihak kepada rakyat kecil, terutama masyarakat pedesaan. Nilai-nilai tersebut tetap relevan di tengah tantangan krisis pangan, kemiskinan, dan ketimpangan sosial saat ini,” ujar Dr Ivanovich dalam Konferensi Pers Peringatan 100 Tahun Sajogyo di Kampus IPB Dramaga, Bogor (19/5).
Ia menjelaskan, Sajogyo dikenal sebagai akademisi yang memperjuangkan pendekatan multidisiplin dalam pembangunan pedesaan.
Selain memperkenalkan konsep “modernization without development”, Sajogyo juga menggagas Garis Kemiskinan Sajogyo yang menggunakan pendekatan kebutuhan dasar berbasis konsumsi beras untuk mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat.
“Sajogyo memandang sosiologi pedesaan sebagai ilmu hibrida yang mengintegrasikan sosiologi, antropologi, ekonomi, hingga hukum adat untuk memahami persoalan desa secara komprehensif,” tuturnya. Pendekatan tersebut dinilai masih relevan dalam menyusun kebijakan pembangunan inklusif di Indonesia.
Selain itu, Dr Ivanovich mengatakan bahwa peringatan 100 tahun Sajogyo bukan hanya mengenang sejarah, tetapi juga menjadi ruang refleksi akademik untuk merumuskan pembangunan alternatif yang lebih adil dan berkelanjutan.
Ia menambahkan bahwa warisan pemikiran Sajogyo penting untuk memperkuat kedaulatan pangan, pemerataan sumber daya, dan solidaritas sosial masyarakat.
Rangkaian kegiatan peringatan ini meliputi book fair, pameran perjalanan intelektual Sajogyo, pameran produk petani, konferensi internasional, hingga peluncuran sejumlah buku terkait pemikiran Sajogyo. Konferensi internasional akan menghadirkan akademisi dari berbagai negara yang membahas isu dekolonisasi ilmu sosial, krisis iklim, pembangunan alternatif, serta masa depan sistem pangan yang berkeadilan. (dr)
