Inovasi IPB University Diakui, Kementan Borong Benih Padi IPB9G Senilai Rp250 Miliar
Sejumlah pimpinan IPB University menggelar pertemuan bersama Menteri Pertanian (Mentan) RI dalam tajuk Co-Creating Transformasi dan Resiliensi Pangan Indonesia di Gedung Startup Center, Kampus IPB Taman Kencana, Bogor (9/4). Kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi strategis antara akademisi dan pemerintah dalam mempercepat inovasi sektor pertanian nasional.
Mentan Dr Amran Sulaiman mengapresiasi kontribusi IPB University dalam menghasilkan inovasi yang berdampak nyata bagi peningkatan produksi pangan nasional. Ia menyoroti keberhasilan varietas padi unggul IPB, khususnya padi IPB9G yang mampu meningkatkan produktivitas secara signifikan.
“Kerja sama ini sudah berjalan panjang. Salah satu yang menarik adalah benih padi IPB, produktivitasnya bisa mencapai 9 hingga 11 ton per hektare, jauh di atas rata-rata nasional yang sekitar 5,5 hingga 6 ton. Ini luar biasa,” ujarnya.
Sebagai bentuk dukungan nyata, Kementerian Pertanian melakukan pembelian produk IPB9G dengan nilai mencapai Rp250 miliar. Menurutnya, langkah ini merupakan bentuk penghargaan terhadap para peneliti yang telah berkontribusi bagi ketahanan pangan nasional.
“Kami ingin hasil riset tidak berhenti di laboratorium, tetapi langsung diimplementasikan dalam skala besar dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” tegasnya.
Selain padi, Mentan juga mendorong pengembangan komoditas strategis lainnya seperti bawang putih, singkong (tapioka), dan kopi. Ia menekankan pentingnya inovasi untuk mengatasi berbagai kendala produksi, termasuk mempercepat masa dormansi bawang putih agar dapat meningkatkan produktivitas nasional.
“Kita tidak lagi berbicara skala percobaan, tetapi sudah masuk skala industri. Semua harus bergerak cepat untuk menjawab tantangan pangan ke depan,” tambahnya.
Sementara itu, Rektor Dr Alim Setiawan Slamet menegaskan kesiapan IPB University dalam mendukung transformasi pertanian melalui penguatan riset, inovasi, dan sumber daya manusia. Ia menyebut pendekatan co-creation menjadi kunci dalam menyelaraskan kebutuhan pemerintah dengan kapasitas akademik.
“Kami membangun kolaborasi ini dalam model ko-kreasi, di mana IPB dan Kementerian Pertanian bersama-sama mendiskusikan permasalahan, solusi, serta implementasi inovasi agar tepat guna dan berdampak luas,” jelasnya.
Ia menuturkan, berbagai inovasi IPB University telah mulai diadopsi secara luas, termasuk varietas padi unggul yang berkontribusi terhadap peningkatan produksi beras nasional. Permintaan produksi benih pun terus meningkat signifikan.
“Tahun lalu sekitar 4.000 ton, dan tahun ini kami ditargetkan hingga 12.500 ton, bahkan diminta lebih. Ini menunjukkan kepercayaan besar terhadap inovasi IPB,” ujarnya.
Selain itu, lanjutnya, IPB University juga mengembangkan inovasi di sektor peternakan, seperti ayam unggul dengan pertumbuhan cepat, serta mendorong hilirisasi inovasi melalui startup yang dikembangkan mahasiswa dan alumni.
Tak hanya itu, kerja sama juga diperluas pada pengembangan komoditas perkebunan melalui konsep perhutanan sosial. IPB University bersama Kementerian Pertanian akan mengembangkan sekitar 1,7 juta bibit kopi di lahan seluas 1.700 hektare, serta komoditas lain seperti durian dan alpukat.
“Kami mendapatkan banyak masukan dari Pak Menteri, sehingga arah riset ke depan semakin tepat sasaran dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat,” tambahnya.
Melalui kolaborasi ini, IPB University menegaskan perannya sebagai mitra strategis pemerintah dalam memperkuat transformasi dan resiliensi pangan nasional di tengah tantangan global yang semakin kompleks. (AS)
