DPKKHA dan Agrianita IPB University Dorong Perempuan Tembus Posisi Strategis di Dunia Kerja

DPKKHA dan Agrianita IPB University Dorong Perempuan Tembus Posisi Strategis di Dunia Kerja

dpkkha-dan-agrianita-ipb-university-dorong-perempuan-tembus-posisi-strategis-di-dunia-kerja.jpg
Berita

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, Direktorat Pengembangan Karier, Kewirausahaan, dan Hubungan Alumni (DPKKHA) dan Agrianita IPB University menggelar Sharing Session “Women in Career: Carrying Kartini’s Spirit into Global Industries and Governance”

Kegiatan ini membahas realitas dan tantangan perempuan dalam membangun karier di era modern, baik di sektor industri maupun pemerintahan.

Direktur PKKHA Puji Mudiana, SP, MA menyampaikan bahwa IPB University terus berupaya memperkuat kesiapan karier mahasiswa melalui berbagai program, salah satunya Tracer Study Alumni. 

“Berdasarkan data tracer study, terdapat perbedaan pencapaian antara lulusan perempuan dan laki-laki. Rata-rata pendapatan awal lulusan perempuan berada di angka Rp4,5 juta dengan masa tunggu kerja sekitar 3,6 bulan sedangkan lulusan laki-laki memiliki rata-rata pendapatan Rp5,2 juta dengan masa tunggu 3,4 bulan,” ungkapnya. 

Pada sesi pemaparan, Ketua Agrianita IPB University, Suci Nur Aini Zaida, menyampaikan bahwa kehadiran perempuan membawa nilai penting dalam birokrasi, seperti empati, kolaborasi, integritas, dan inovasi layanan. 

“Nilai-nilai tersebut menjadi perspektif yang memperkaya proses pengambilan keputusan dan peningkatan kualitas pelayanan publik,” ujar Senior Spatial Planning Expert di Dinas Cipta Karya, Tata Ruang, dan Pertanahan Provinsi DKI Jakarta ini.

Meski demikian, ia mengungkap perempuan di birokrasi masih menghadapi kesenjangan, terutama dalam akses ke jabatan strategis. 

“Jumlah ASN (aparatur sipil negara) perempuan terus meningkat dan bahkan mendominasi secara kuantitas. Namun, pada posisi struktural, keterwakilan perempuan masih tertinggal jauh dibandingkan laki-laki. Secara statistik menunjukkan peningkatan, tetapi kesenjangan tetap terlihat jelas pada level pengambilan keputusan,” ungkapnya.

Dalam praktik kerja, ia mengatakan, perempuan sering kali diperlakukan berbeda, seperti tidak didorong untuk terlibat langsung di lapangan. Padahal, dari sisi kompetensi teknis, kemampuan perempuan dinilai setara. Kondisi ini membuat perempuan perlu bekerja lebih keras untuk mendapatkan pengakuan.

Menurutnya, faktor sosial juga turut memengaruhi perkembangan karier perempuan. Peran domestik, pengasuhan misalnya, masih banyak dibebankan kepada perempuan. Dalam kondisi ekonomi sulit, perempuan bahkan kerap menjadi pihak yang paling terdampak, sehingga perjalanan karier menjadi lebih menantang.

Selain itu, Anindita Sita Dewi turut membagikan pandangan mengenai pentingnya keberanian untuk berkembang dan tampil berbeda. Baginya, setiap individu memiliki perjalanan masing-masing, dan proses menjadi bagian penting dalam membangun kemampuan, termasuk soft skills. (Ez)