Pakar IPB University: Bukan Mikroplastik, Namun Nanoplastik yang Berpotensi Masuk ke dalam Darah

Pakar IPB University: Bukan Mikroplastik, Namun Nanoplastik yang Berpotensi Masuk ke dalam Darah

pakar-ipb-university-bukan-mikroplastik-namun-nanoplastik-yang-berpotensi-masuk-ke-dalam-darah.jpg
Ilustrasi (cakrawala.co)
Riset dan Kepakaran

Pakar pencemaran dan ekotoksikologi dari IPB University, Prof Etty Riani, menegaskan bahwa partikel plastik yang berpotensi masuk ke dalam darah manusia bukanlah mikroplastik, melainkan nanoplastik yang berukuran sangat kecil.

Prof Etty menjabarkan, nanoplastik memiliki ukuran jauh lebih kecil dibandingkan mikroplastik, yakni berkisar antara 1 hingga 1.000 nanometer. Sebagai perbandingan, satu milimeter setara dengan satu juta nanometer.  

Dijelaskannya, partikel berukuran kurang dari 100 nanometer berpotensi menembus dinding usus dan masuk ke dalam aliran darah melalui membran sel. “Ukuran partikel plastik yang dikonsumsi dan bisa melewati lambung tidak bisa sembarangan. Setidaknya harus lebih kecil dari 0,15 milimeter,” ujarnya.

Ia menegaskan, mikroplastik sebagaimana definisinya dinilai mustahil masuk ke dalam air ketuban. Pasalnya, ukuran partikel tersebut terlalu besar untuk menembus sistem pencernaan dan masuk ke peredaran darah.

Prof Etty memaparkan, terdapat beberapa jalur yang memungkinkan partikel plastik masuk ke dalam tubuh. Partikel berukuran sekitar 500 nanometer, misalnya, dapat masuk melalui sel imun yang terdapat di dalam usus. Sementara itu, partikel berukuran kurang dari 100 nanometer juga dapat masuk melalui sirkulasi usus. Usus pun dapat menyerap partikel berukuran 100–200 nanometer melalui proses endositosis.

“Karena usus itu tidak bisa dilalui kalau ukurannya mikroplastik, maka akan keluar melalui feses. Kalau melalui udara bisa, tapi ukurannya harus sangat kecil,” jelasnya.

Ia menambahkan, paparan melalui udara berkaitan dengan partikel polutan seperti PM2.5 dan PM1.0. Namun, partikel yang berpotensi masuk lebih dalam ke tubuh adalah PM1.0, yakni partikel dengan ukuran kurang dari satu mikron atau seperseribu milimeter.

Nanoplastik juga diduga dapat masuk ke organ lain seperti otak dan air ketuban, tetapi ukurannya harus sangat kecil. Hal ini karena setiap makanan dan minuman yang dikonsumsi akan melalui proses pencernaan terlebih dahulu sebelum dapat diserap ke dalam darah.

Terkait deteksi mikroplastik dalam tubuh manusia, Prof Etty menegaskan bahwa pemeriksaan tidak dapat hanya mengandalkan mikroskop biasa. Sejumlah metode analisis lanjutan diperlukan untuk memastikan keberadaan partikel plastik.

Beberapa teknologi yang dapat digunakan antara lain fourier transform infrared spectroscopy (FTIR), gas chromatography-mass spectrometry (GC-MS), mikroskop elektron, serta spektroskopi mikro-Raman.

Menurut Etty, penggunaan mikroskop saja berisiko menimbulkan kesalahan identifikasi. Partikel yang terlihat, bisa saja merupakan plankton atau senyawa lain, bukan mikroplastik.

“Saya kebetulan di Osaka, Jepang, waktu itu mengiranya mikroplastik. Ketika ditembak dengan spektroskopi mikro-Raman, ternyata itu bukan mikroplastik. Kalau hanya mikroskop saja, enggak mungkin bisa memastikan,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, spektroskopi mikro-Raman merupakan salah satu metode yang lebih akurat untuk mendeteksi partikel plastik berukuran sangat kecil, termasuk nanoplastik.

Prof Etty pun mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam menyimpulkan temuan mikroplastik dalam tubuh manusia. Analisis laboratorium yang tepat menjadi kunci agar tidak terjadi kekeliruan dalam interpretasi hasil penelitian. (dh)