Rambutan Absen di Akhir Tahun, Pakar Buah Tropika IPB University Ungkap Alasannya
Rambutan yang biasanya menjadi “penanda musim” akhir tahun kini tak lagi mudah dijumpai. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan di masyarakat. Prof Sobir, pakar buah tropika dari IPB University mengungkapkan bahwa hilangnya musim rambutan dipengaruhi oleh faktor iklim, fisiologi tanaman dan pergeseran nilai ekonomi.
“Ada tiga kemungkinan utama penyebab minimnya produksi rambutan pada akhir 2025,” kata Prof Sobir saat dihubungi Redaksi IPB Today (6/1).
Ia mengurai, faktor pertama adalah kondisi iklim yang cenderung mengalami ‘kemarau basah’ pada tahun 2025 sehingga induksi pembungaan tidak berlangsung optimal. Kedua, tanaman rambutan memiliki sifat berbuah lebat pada satu tahun dan cenderung berkurang pada tahun berikutnya (biannual bearing) karena cadangan hasil fotosintesis terkuras pada panen sebelumnya, sehingga produksi panen berikutnya berkurang.
“Pohon buah-buahan tropika seperti rambutan akan berbunga bila tanaman memiliki cadangan hasil fotosintesis yang cukup dan mendapat periode kering selama 2–4 minggu. Biasanya tanaman berbunga di awal musim hujan, sekitar Oktober–November, dan dipanen pada Desember saat musim hujan,” kata Prof Sobir.
Ia juga menanggapi anggapan bahwa pohon rambutan kini semakin sedikit atau tidak lagi berbuah. Menurutnya, kedua hal tersebut bisa saja terjadi. Nilai ekonomi rambutan yang relatif rendah membuat petani atau pemilik pohon enggan memanen ketika jumlah buah sedikit karena dianggap tidak ekonomis.
Terkait kemungkinan pergeseran musim buah, Prof Sobir menyatakan hal tersebut sangat bergantung pada pergeseran pola musim. Jika periode kemarau berlangsung jelas dan cukup kering, produksi buah pada musim berikutnya berpotensi meningkat.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebanyak 94,7 persen wilayah Indonesia pada 2026 mengalami curah hujan tahunan dengan kategori sifat hujan Normal, dengan curah hujan berkisar antara 1.500-4.000 mm/tahun. Sedangkan sebagian kecil (5,1 persen) wilayah lainnya diprediksi mengalami curah hujan tahunan dengan kategori Atas Normal. Dengan demikian, dapat diharapkan produksi rambutan tahun 2026 kembali normal. (dh)
