IPB University Undang Sejumlah Pakar dan Akademisi Bahas Perubahan Iklim dan Risikonya Terhadap Perikanan dan Kelautan

IPB University Undang Sejumlah Pakar dan Akademisi Bahas Perubahan Iklim dan Risikonya Terhadap Perikanan dan Kelautan

IPB University Undang Sejumlah Pakar dan Akademisi Bahas Perubahan Iklim dan Risikonya Terhadap Perikanan dan Kelautan
Berita

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) dan Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL) IPB University berkolaborasi dalam gelaran seminar dan diskusi bertemakan ‘Perubahan Iklim dan Risiko Terhadap Perikanan dan Kelautan’. Dalam kegiatan yang dilangsungkan di Ruang Diskusi Senat FPIK, Kampus IPB Dramaga ini, hadir sejumlah pakar dari perguruan tinggi, organisasi hingga lembaga pemerintah.

“Perubahan iklim harus dimaknai sebagai dampak dari ulah manusia. Oleh karenanya, menjadi tanggung jawab kita semua untuk menjaga kestabilan alam”, tegas Dekan FPIK IPB University, Prof Fredinan Yulianda dalam pidato pembukaannya.

Hal yang sama disampaikan Kepala PKSPL IPB University, Prof Yonvitner. Ia mengatakan, penguatan adaptasi dan literasi terhadap upaya pengurangan risiko akibat perubahan iklim pada sektor perikanan dan kelautan menjadi keharusan untuk dilakukan oleh semua pihak.

Berdasarkan paparan Ketua Dewan Pembina Kesehatan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Dr M Riza Adha Damanik, perubahan iklim menimbulkan kerentanan di tengah masyarakat nelayan yang masih termasuk ke dalam kategori masyarakat miskin. Diskursus terkait hal ini, baik secara regional dan global mesti didorong agar mampu memberikan solusi bagi nelayan dan perikanan skala kecil.

“KNTI telah mendapat hasil riset kerentanan sosial ekonomi nelayan tradisional dari empat desa: Ambon, Pemalang, Aceh Selatan dan Pangkep. Ternyata ada empat faktor yang membuat masyarakat nelayan semakin rentan terhadap krisis iklim, yaitu karena diversifikasi pekerjaan rendah, beban ekonomi tinggi, perlindungan kerja minim dan kemampuan ekonomi rendah,” urainya.

Untuk mengatasi hal tersebut, Staf Khusus Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Kemenkop UKM) ini merekomendasikan upaya integratif terkait adaptasi, mitigasi, ketangguhan komunitas pesisir, pengembangan kapasitas, akses ke layanan dasar dan peningkatan perlindungan nelayan dari risiko aktivitas penangkapan.

Sementara Prof Jonson Lumban Gaol, Guru Besar FPIK IPB University juga mengakui perikanan Indonesia sangat sensitif terhadap perubahan iklim, tetapi kapasitas adaptasinya masih rendah. Padahal variabilitas dan perubahan iklim berdampak signifikan terhadap kondisi kelautan Indonesia.

“Unsur iklim menjadi penting untuk perikanan dan kelautan dalam rangka mempertahankan keberlanjutan usaha perikanan dan kelautan ke depan, sehingga kita harus mempelajari kelautan dan perikanan mulai dari skala ruang yang kecil karena lautan lebih dinamis dibanding daratan,” ia menjelaskan.

“Belum lagi kondisi perairan laut Indonesia bervariasi setiap 10 tahun akibat variabilitas iklim, sementara pengetahuan kurang. Hal ini yang perlu dikelola. Potensi perikanan tangkap dapat menurun drastis karena perairan laut dipengaruhi kuat oleh El Nino-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole,” tandasnya.

Ia menyimpulkan, potensi kerugian perikanan tangkap lebih tinggi daripada pertanian bila terdampak perubahan iklim. Menurutnya, perlu ada kegiatan penelitian maupun monitoring untuk menemukan solusinya dengan anggaran yang memadai pula.