Nadzirum Mubin, Dosen Muda IPB University Cek Kondisi Pertanaman Tembakau di Temanggung, Jawa Tengah

Nadzirum Mubin, Dosen Muda IPB University Cek Kondisi Pertanaman Tembakau di Temanggung, Jawa Tengah

nadzirum-mubin-dosen-muda-ipb-university-cek-kondisi-pertanaman-tembakau-di-temanggung-jawa-tengah-news
Berita

Tembakau merupakan salah satu komoditas yang memberikan sumbangan besar terhadap devisa negara. Tembakau digunakan sebagai bahan baku rokok. Kualitas rokok sangat dipengaruhi oleh kualitas daun tembakau di lapangan. Pemeliharaan tanaman dari serangan hama dan penyakit menjadi salah satu kunci keberhasilan untuk menjaga kualitas hasil produksi. 

Nadzirum Mubin, salah satu dosen muda IPB University dari Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian berkesempatan untuk berkunjung ke sentra produksi tembakau di Temanggung, Jawa Tengah. Sepanjang mata memandang di kaki Gunung Sindoro-Sumbing, terlihat tembakau yang ditanam oleh petani dan pemerintah daerah setempat. Tembakau asal Temanggung sudah lama dikenal memiliki kualitas yang sangat baik. Produktivitasnya pun sudah diketahui memberikan sumbangan devisa besar bagi negara, baik di pasar nasional maupun pasar ekspor.

Nadzir, sapaan akrab dosen muda IPB University ini, menyebutkan bahwa cukup banyak permasalahan di dalam budi daya tanaman tembakau, salah satu yang utama adalah adanya kutu kebul Bemisia tabaci (Hemiptera: Aleyrodidae) yang dapat menjadi vektor virus tobacco mosaic virus (TMV) atau penyakit bercak belang pada daun tembakau. 

“Penyakit yang disebarkan oleh serangga berukuran kecil dan berwarna putih ini menyebabkan kualitas daun tembakau menjadi turun. Bahkan menyebabkan cita rasa dari tembakau berkualitas rendah. Virus tersebut tidak menyebabkan kematian pada tanaman yang ditumpangi karena bersifat parasit. Tanaman akan dijaga agar tetap hidup agar virus tanaman masih dapat hidup dan berkembang biak,” terang Nadzir.

Lebih jauh ia menjelaskan, serangan dari penyakit ini tidak secara langsung menyebabkan hilangnya sebagian atau seluruh daun, tetapi kerusakan yang ditimbulkan yaitu menurunnya kualitas. Konsumen hanya akan memberikan harga murah dan nantinya akan dijual di pasar-pasar tradisional saja. Sementara tanaman tembakau yang dijaga dari serangan kutu kebul, akan terhindar dari virus tanaman dan memiliki cita rasa yang baik sehingga dapat menembus ke pasar internasional.

“Selain kutu kebul, serangga pengganggu yang dapat menurunkan produksi tanaman tembakau seperti ulat grayak Spodoptera litura (Lepidoptera: Noctuidae),” imbuh Nadzir. Ia menerangkan, ulat grayak akan memakan sebagian atau seluruh daun, sehingga kerusakan yang ditimbulkan akan langsung mudah terlihat. 

“Ulat ini akan menyerang mulai dari fase tanaman masih muda hingga tanaman sudah tua. Ulat akan terus memakan daun tembakau untuk memenuhi kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan untuk pertumbuhannya. Pada serangan yang parah, daun tembakau akan disisakan pertulangan daun saja atau bahkan dimakan habis oleh ulat grayak,” urainya. 

Nadzir berharap penerapan pengelolaan hama terpadu (PHT) menjadi dasar yang terus dipegang. Pengelolaan yang dilakukan seperti budi daya tanaman sehat, berarti tanaman tersebut tidak terserang oleh hama dan penyakit tanaman. Selain itu, juga dilakukan pemanfaatan musuh alami atau agens hayati untuk menurunkan penggunaan pestisida di lapangan. 

“Penggunaan pestisida yang kurang bijaksana akan menimbulkan banyak permasalahan seperti adanya resistensi (kebal) pada serangga hama, munculnya hama baru. Bahkan jika digunakan secara berlebihan akan meninggalkan residu pestisida pada tanaman,” tandasnya. (*/Rz)