Departemen MSP IPB University Jalin Kolaborasi dengan CEFAS dan Oxford University Lakukan Riset Fish Tagging di Aceh

Departemen MSP IPB University Jalin Kolaborasi dengan CEFAS dan Oxford University Lakukan Riset Fish Tagging di Aceh

Departemen MSP IPB University Jalin Kolaborasi dengan CEFAS dan Oxford University Lakukan Riset Fish Tagging di Aceh
Berita

Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan (MSP), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University bersama Center for Environment, Fisheries and Aquaculture Services (CEFAS) dan Oxford University Inggris mengadakan kegiatan Collaborative Handling, Live Release and Tagging Workshop on Wedgefish di Aceh Jaya, Provinsi Aceh.

Workshop dan riset terkait fish tagging itu menghadirkan dua peneliti dari CEFAS, Dr Sophy McCully Phillips dan Dr Joanna Bonner serta peneliti dari Oxford University, Dr Hollie Booth sebagai instruktur. Kolaborasi akademik dan riset antara dua institusi di Inggris ini dirintis oleh Prof Luky Adrianto, salah seorang Guru Besar IPB University di Departemen MSP. Kolaborasi ini juga didukung penuh oleh Ketua Departemen MSP IPB University, Prof Hefni Effendi.

Workshop diikuti oleh mahasiswa Program Studi Doktor Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan (SPL) FPIK IPB University didampingi oleh Dr Zairion, staf Direktorat Perencanaan Ruang Laut, Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan (Ditjen PRL-KKP).

Pada workshop dilakukan penangkapan ikan pari kekeh oleh peserta di bawah bimbingan instruktur. Workshop diisi dengan materi teori tentang prinsip dasar penggunaan alat penanda (tagging) dan praktiknya.

“Praktik penggunaan baik tagging conventional maupun electronic tagging dilakukan di dekat Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Rigaih. Para peserta dan nelayan sangat antusias mengikuti workshop maupun uji coba pemasangan tagging tersebut,” ujar Dr Zairion.

Penjabat (Pj) Bupati Aceh Jaya Dr Nurdin dan Kepala DKP Kabupaten Aceh Jaya Teuku Ridwan juga menyambut baik workshop tersebut dalam rangka menunjang konservasi spesies ikan pari kekeh di Aceh Jaya.

Prof Hefni Effendi mengatakan, ikan pari kekeh (Rhynchobatus spp) atau dikenal dengan nama umum sebagai wedgefish, termasuk ke dalam kategori critically endangered species menurut The International Union for Conservation of Nature (IUCN) tahun 2019. Ikan ini juga tergolong ke dalam kategori Appendix II menurut Convention on International Trade in Endangered Species (CITES) tahun 2017.

Memperhatikan hal tersebut, Indonesia telah mengatur peredaran pari kekeh dalam Keputusan Menteri KKP No 12 tahun 2022 tentang Kuota Pemanfaatan Jenis Ikan Dilindungi. Hal ini disebabkan oleh banyaknya permintaan terkait produk pari kekeh, baik dalam skala nasional maupun internasional. Tingginya nilai ekonomi yang dimiliki oleh ikan pari kekeh juga dapat mengakibatkan peningkatan eksploitasi sehingga terjadi penurunan populasi.

Perairan Aceh, terutama di sekitar Kabupaten Aceh Jaya merupakan salah daerah penangkapan ikan pari kekeh di Indonesia. Pari kekeh yang tertangkap merupakan hasil tangkapan sampingan (incidental catch) dari alat tangkap jaring insang dasar dan pancing ulur.

“Selama ini hasil tangkapan nelayan di Aceh Jaya merupakan pari kekeh yang masih juvenile, sehingga perlu dilakukan konservasi dengan baik dan memadai, agar ikan ini terus bisa dijaga keberlangsungan keberadaannya,” ungkap Dr Hefni.