Mahasiswa KKN-T Inovasi IPB University Galakkan Diversifikasi Pengolahan Produk Perikanan
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata-Tematik (KKN-T) Inovasi IPB University di Kebumen, Jawa Tengah mengadakan kegiatan diversifikasi produk olahan ikan bersama Kelompok Pengolahan dan Pemasaran (Poklasar) Mina Sejahtera di Desa Miritpetikusan, Kecamatan Mirit, Kebumen, Jawa Tengah.
Kegiatan ini merupakan rangkaian terakhir dari program Sosialisasi Gerakan Gemar Makan Ikan (Gemari) yang dilakukan mahasiswa KKN-T Inovasi IPB University. Sebelumnya, sosialisasi telah dilaksanakan bersama ibu-ibu pemberdayaan kesejahteraan keluarga (PKK) dan anak-anak taman pendidikan Al-Qur'an (TPQ). Rangkaian kegiatan terakhir dari Gemari ini juga dihadiri oleh Dinas Lingkungan Hidup Kelautan dan Perikanan (DLHKP) Kota Kebumen.
“Tujuan umum dari Gemari ialah meningkatkan nilai komersial ikan dan pemenuhan kebutuhan protein, khususnya pada anak-anak. Melalui gerakan ini diharapkan stunting dapat dicegah,” ujar Rahayu, mahasiswa IPB University selaku penanggung jawab kegiatan.
Pada pelaksanaannya, kegiatan Gemari diisi dengan mengolah ikan menjadi produk turunannya berupa nugget. Bahan dasar yang digunakan adalah ikan cakalang dengan campuran sayur. Menurut Rahayu, pembuatan nugget ditujukan untuk memberikan ide baik untuk menu masakan sehari-hari maupun sebagai ide bisnis. Selain itu, pembuatan produk ini juga meningkatkan minat konsumsi ikan masyarakat, terutama anak-anak.
Perwakilan DLHKP Kota Kebumen, Budi Purnomo, STr Pi berharap kegiatan dapat dikembangkan lebih lanjut oleh Poklasar Mina Sejahtera. Ia juga mengharapkan kegiatan tidak hanya berhenti sampai pada tahap pengolahan produk, tetapi juga hingga pemasaran sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat.
Anggota Poklasar yang hadir dalam acara ini sangat antusias menanggapi kegiatan yang dilakukan. “Mbak, kira-kira kalau saya ingin menjual produk ini, berapa modal yang harus dikeluarkan? Apakah nugget dapat diolah menjadi bentuk lain yang terjangkau untuk dibeli oleh anak-anak? Misalnya seperti keripik basreng,” tanya Tumbar selaku Ketua Poklasar Mina Sejahtera.
“Untuk modal pembuatan nugget secara keseluruhan tergantung ikan yang digunakan. Jika yang digunakan adalah ikan laut, maka modal yang dikeluarkan dapat lebih besar. Sementara untuk modal membeli tepung dan bahan pelengkap lainnya dapat dikalkulasikan kurang lebih sebesar lima puluh ribu rupiah,” jelas Rahayu.
Mutiara, mahasiswa IPB University dari Departemen Teknologi Hasil Perairan dan Nazwa dari Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan menjelaskan bahwa diversifikasi produk ini dapat diubah menjadi makanan ringan yang lebih ekonomis. Misalnya, diubah potongannya menjadi lebih tipis atau dibuat menjadi stik nugget.
Kegiatan diversifikasi produk olahan ikan diakhiri dengan pembagian nugget hasil pengolahan ikan cakalang. Menurut Budi Purnomo, nugget tersebut dinilai cukup lezat dan mampu bersaing di pasaran. Pembagian dan pengolahan nugget turut mendorong anggota poklasar untuk berinovasi dalam mengolah ikan menjadi produk lainnya serta memasarkannya. (*/Rz)
