Mengulik Peran Agroekologi melalui Jambore Perlindungan Tanaman Indonesia
Himpunan Mahasiswa Departemen Proteksi Tanaman (Himasita) IPB University kembali menggelar Jambore Perlindungan Tanaman Indonesia (JPTI) untuk kedelapan kalinya. Kegiatan yang digelar pada tanggal 6-11 November 2019 di Kampus IPB University tersebut sedikitnya diikuti 42 mahasiswa dari Universitas Brawijaya, Universitas Gadjah Mada, Universitas Padjajaran, Universitas Jember, dan Universitas Sriwijaya.
“Kegiatan kali ini mengangkat tema tentang isu agroekologi pada sistem pertanian. Kami mengangkat isu ini karena sistem pertanian kita saat ini masih berorientasi pada produksi, belum mempertimbangkan kestabilan dan berkelanjutan agroekosistem,” ungkap Ketua Pelaksana JPTI, Muhammad Darnando R.R.
Mahasiswa Departemen Proteksi Tanaman IPB University itu mengatakan kegiatan JPTI digelar sebagai wadah untuk meningkatkan daya kritis terhadap pertanian dan mengkampanyekan tentang pentingnya perlindungan tanaman yang ramah lingkungan.
Rangkaian kegiatan JPTI tahun 2019 meliputi lomba foto, poster, pentas seni, pelatihan budidaya maggot, focus group discussion, expo, seminar nasional dan one day trip ke Museum Pertanian.
“Kegiatan one day trip ini bertujuan mengenalkan òpertanian berbasis agroekologi kepada mahasiswa. Selain itu, supaya mahasiswa tergerak untuk ikut andil dalam implementasi pertanian dengan prinsip keberlanjutan agroekologi,” paparnya.
Ia menambahkan, pada kesempatan ini mahasiswa juga dikenalkan mengenai maggot atau larva lalat tentara hitam. Saat ini maggot dinilai berpotensi sebagai pengganti protein hewani yang dapat dikonsumsi oleh masyarakat. Pasalnya, maggot dapat diolah menjadi makanan siap konsumsi seperti kue, wafer, dan makanan ringan lainnya.
“Karena kandungan protein yang tinggi, maggot juga dapat digunakan sebagai alternatif pakan ternak, bisa digunakan untuk pakan ikan, ayam, maupun hewan peliharaan lainnya,” pungkas Nando. (*/RA)
