Agro-Maritim 4.0 Solusi untuk Persoalan Pertanian di Perkotaan
Dalam upaya memikirkan kondisi lahan pertanian dan pedesaan yang semakin berkurang akibat perkembangan urbanisasi yang tinggi, Pusat Pengkajian, Perencanaan dan Pengembangan Wilayah (P4W) Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM IPB) menggelar konferensi internasional dengan tema “Rethinking the impacts of Urbanization on Agriculture and Land Use”. Acara yang menghadirkan peserta dari berbagai negara ini digelar di IPB International Convention Center, Selasa (22/10).
Ketua Panitia, Dr Didit Okta Pribadi, menyampaikan apabila kota berkembang dengan pesat, sedangkan kawasan pedesaan yang didominasi pertanian tidak dibangun, dapat mengakibatkan kesenjangan sosial yang semakin lebar.
“Untuk itu perlu upaya supaya hal tersebut dapat diintegrasikan. Oleh karena itu, di sini kita akan fokus membahas hal tersebut,” ungkapnya.
Ia memprediksi, apabila 60 persen masyarakat tinggal di perkotaan, ke depannya akan terjadi masalah serius dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakatnya. Hal ini karena kemungkinan besar lahan pertanian di pedesaan maupun perkotaan akan semakin sedikit.
Menanggapi persoalan tersebut, Rektor IPB University, Prof Dr Ir Arif Satria menyampaikan jumlah populasi di perkotaan dibandingkan dengan populasi di daerah pedesaan mengalami peningkatan yang signifikan.
Ia menyebut, berdasarkan prediksi dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 2050, sekitar 66% jumlah populasi dunia diproyeksikan berada di perkotaan. “Pertumbuhan populasi perkotaan di Asia lebih cepat dari sebelumnya dan akan ada lebih dari 1,1 miliar orang Asia yang tinggal di perkotaan pada tahun 2030,” ungkap Prof Arif.
Selain itu, lanjut Rektor IPB, Indonesia mempunyai masalah serius dalam hal konversi lahan. Aktivitas konversi lahan di Indonesia saat ini sangat masif, padahal terdapat undang-undang pangan berkelanjutan untuk melindungi lahan pertanian dari konversi lahan.
“Ke depan, urban farming menjadi tuntutan kita bersama untuk bisa menyediakan pangan. Urban farming merupakan solusi pertanian dengan perkembangan teknologi industri 4.0. Saat ini IPB sudah memiliki roadmap agro-maritim 4.0 untuk diaplikasikan,” papar Prof Arif.
Ia menilai, konsep agro-maritim 4.0 tidak hanya mempromosikan efisiensi dalam rantai pasokan, tetapi yang lebih penting adalah meningkatkan kualitas, nilai tambah, partisipasi, daya saing, dan menciptakan banyak arus kas melalui multifungsi pertanian. Konsep agro-maritim 4.0 bertujuan menghasilkan produk yang sehat dan aman, dapat dilacak dan disertifikasi. Hal ini dapat mempromosikan produksi dan konsumsi berkelanjutan yang menghasilkan limbah nol dan jejak ekologis yang rendah serta mampu menjaga keanekaragaman hayati.
Dalam rangka mengimplementasikan konsep agro-maritim 4.0, IPB telah menyusun kurikulum untuk menciptakan pelajar mandiri dan mampu memanfaatkan berbagai platform pendidikan digital.
Hal serupa juga disampaikan oleh Pakar Perencanan Wilayah IPB University, Dr. Ernan Rustiadi. Ia menyampaikan, meski populasi masyarakat kota lebih banyak, tetapi akan selalu ada peluang baru jika dilihat dari sisi positifnya.
“Salah satunya dengan urban agriculture. Justru pertanian yang dekat dengan kota itulah yang memiliki banyak peluang supaya pertanian tumbuh,” ungkapnya.
Ia juga mengakui, jumlah lahan padi sawah di Indonesia saat ini terus menurun. Jumlah yang tersedia saat ini ada sekitar 7.1 juta hektar. Jumlah tersebut sangat sedikit rasionya jika dibandingkan dengan jumah penduduk Indonesia.
“Indonesia merupakan negara yang paling kecil rasio antara jumlah padi sawah dibanding jumlah penduduk. Meskipun produktivitas tinggi yaitu mencapai hampir 7 ton per hektar, namun jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia maka jumlah tersebut masih kurang,” ucapnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Ristekdikti), Dr. Muhammad Dimyati menyampaikan pentingnya kerjasama antar asosiasi untuk penguatan riset.
“Kegiatan ini akan sangat bermanfaat, terutama dalam mengkaji persoalan-persoalan besar, tidak hanya pertanian, tetapi terkait persoalan perpindahan ibukota di lahan gambut,” tuturnya.
Ia menilai, selain asosiasi pertanian diperlukan berbagai asosiasi maupun instansi. Keberadaan asosiasi berfungsi sebagai jembatan kolaborasi untuk menangani persoalan tersebut.
Perlu diketahui, turut hadir pada konferens ini Prof. Yansui Liu (Ketua IGU Commision on Agricultural Geography and Land Engineering), Prof. Hans Weslund (Urban and Regional Studies KTH Royal Institute of Technology, Sweden) dan Prof. Guy Robinson (University Adelaide). (Dedeh/Rosyid)
Keyword: konversi lahan, agro-maritim 4.0, kolaborasi, P4W IPB, Rektor IPB, urban farming
