Strategi Penanggulangan Kemiskinan Sektor Pertanian di Jawa Barat
Dekan Sekolah Vokasi (SV) Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. Arief Daryanto mengatakan bahwa banyak bukti empiris di dunia bahwa sektor pertanian sangat signifikan membantu mengurangi angka kemiskinan, meningkatkan pendapatan dan memperbaiki ketahanan pangan masyarakat miskin di perdesaan. Hal ini disampaikannya saat menjadi narasumber dalam Focus Group Discussion (FGD) Strategi Penanggulangan Kemiskinan Sektor Pertanian di Jawa Barat yang digelar oleh Bappeda Jawa Barat, (9/4).
Menurut laporan Bank Dunia “Agriculture for the Development”, rata-rata pertumbuhan pertanian setidaknya dua kali lebih efektif dalam mengurangi kemiskinan dibandingkan pertumbuhan di luar pertanian. Pertumbuhan pertanian mengurangi kemiskinan secara langsung dengan meningkatkan pendapatan pertanian dan secara tidak langsung melalui penciptaan lapangan kerja dan pengurangan harga pangan.
“Pertumbuhan pertanian yang berpihak pada rakyat miskin melalui organisasi produsen harus dibuat menjadi lebih kompetitif dan berkelanjutan melalui inovasi kelembagaan dan teknologi,” ujarnya.
Dalam konteks kelembagaan tersebut menjadi menarik karena Pemerintah Jawa Barat saat ini menjadikan model pertumbuhan ekonomi inklusif sebagai andalan dalam mengurangi angka kemiskinan. Model pembangunan ekonomi inklusif di Jawa Barat akan berfokus pada ekonomi Usaha Kecil dan Menengah (UKM) serta ekonomi perdesaan berbasis revolusi digital melalui pengembangan “one village one company” (OVOC).
“Melalui program OVOC diharapkan para petani dapat memiliki lebih banyak akses kepada aset (sumberdaya), akses pasar, meningkatkan produktivitas dan daya saing, mengelola manajemen keuangan dan risiko dengan lebih baik, mengelola sumberdaya yang lebih lestari (berkelanjutan), memiliki “suara” dan “accountability” melalui organisasi produsen atau organisasi usaha pertanian, meningkatkan nilai tambah di sepanjang rantai nilai komoditas, dan kesemuanya akan menghasilkan lebih banyak kesempatan kerja yang lebih berkualitas,” imbuhnya.
Dalam kesempatan FGD tersebut, Dr Arief Daryanto juga menyatakan Pendidikan Teknikal, Vokasi dan Pelatihan (TVET) diyakini oleh banyak pihak sebagai alat untuk peningkatan produktivitas, daya saing, menutup kesenjangan keterampilan dan pengurangan kemiskinan di berbagai negara. Dalam konteks ini maka kehadiran Kampus Sekolah Vokasi IPB di Sukabumi diharapkan dapat memberikan sumbangan yang nyata dalam pengurangan kemiskinan di Jawa Barat.(**/Zul)
