IPB Gandeng Young Scientist Teliti Obat Alami

IPB Gandeng Young Scientist Teliti Obat Alami

ipb-gandeng-young-scientist-teliti-obat-alami-news
Berita

Pusat Studi Biofarmaka Tropika, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Pertanian Bogor (LPPM IPB) terpilih sebagai salah satu Pusat Unggulan Ilmu Pengetahuan  Teknologi Perguruan Tinggi Pembina di Indonesia dari Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Kemristekdikti) RI Tahun 2019.

Salah satu upaya untuk mempertahankan kinerja penelitian yang dapat mendukung agriculture 4.0 dan membuka peluang kolaborasi berbagai disiplin keilmuan di IPB,  Pusat Studi Biofarmaka Tropika  IPB menggelar kegiatan Young Scientist Lecture Series on Biopharmaca 2019 (5/3) di Kampus IPB Taman Kencana.

Sekretaris Pusat Studi  Biofarmaka IPB,  Dr. Wisnu Ananta Kusuma menyampaikan, pentingnya mengembangkan kolaborasi antar bidang ilmu di IPB. “Bentuk kolaborasi demikian menyebabkan ilmu-ilmu tidak mandeg di bidang-bidang tertentu, karena saat ini sudah jamannya multidisiplin dan terus berkembang. Sehingga jika kita hanya membatasi pada ilmu-ilmu kita sendiri, maka akan jauh tertinggal dari yang lain,” tegas Dr. Wisnu. Lebih lanjut disampaikannya bahwa kolaborasi antar bidang ilmu ini akan meningkatkan kebermanfaatan untuk masyarakat luas sesuai arahan Rektor IPB terutama dalam bidang ilmu dan teknologi. Kegiatan ini, kata Wisnu, merupakan kegiatan rutin yang dilakukan setahun dua kali dengan tema yang berbeda untuk mengakomodir lulusan dokter baru, peneliti muda atau young scientist yang berkaitan dengan herbal atau obat alami.

Dr. Siti Sa’diah, MSi., Apt, peneliti Pusat Studi Biofarmaka Tropika IPB menyampaikan materi  “Novel Drug Delivery System for Herbal: Study and Case”.  Dr. Siti mengatakan  Drug Delivery System (DDS) memiliki cakupan keilmuan yang sangat luas dan dapat ditinjau dari berbagai aspek. “Ternyata dari hasil penelitian masih banyak yang belum faham tentang DDS. Rencananya saya akan mengajukan ini sebagai satu mata kuliah pilihan,” ujar dosen Departemen Anatomi, Fisiologi dan Farmakologi Fakultas Kedokteran Hewan IPB ini.

Pada sesi berikutnya Kepala Pusat Studi Satwa Primata IPB,  drh. Huda S. Darusman, MSi., PhD menyampaikan materi “Invivo Test for Natural Remedies Studies”.  Menurut dosen Departemen Anatomi, Fisiologi dan Farmakologi Fakultas Kedokteran Hewan IPB ini perlu dilakukan pemilihan hewan sebagai obyek penelitian yang sesuai untuk melakukan in vivo test pada pengolahan obat alam. “Hewan mendasar digunakan dalam pengolahan obat alam untuk mendeteksi dua hal yaitu manfaat dan bahayanya. Selain itu akan dihasilkan respon biologi yang utuh sehingga bukan trial and error,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Dr. Sa’diah  berharap  ke depannya bisa merekrut peneliti-peneliti baru dari berbagai multi disiplin keilmuan untuk melakukan kerjasama dan penelitian bersama. Saat ini sudah ada perwakilan-perwakilan peneliti yang bergabung dari berbagai fakultas di IPB, hanya saja tingkat keaktifannya masih rendah. Namun sudah banyak produk penelitian IPB hasil kolaborasi dengan Pusat Studi Biofarmaka IPB  yang telah diterima secara luas di masyarakat salah satunya adalah Cajuput Candy yang merupakah permen keras dengan kandungan senyawa aktif dari minyak atsiri tanaman herbal Indonesia kayu putih, dibuat dari bahan-bahan alami yang terdiri dari glukosa, gula pasir, cajuput oil, peppermint dan air.  Permen ini hasil penelitian Prof. Dr. Ir. C Hanny Wijaya dari Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan (ITP), Fakultas Teknologi Pertanian (Fateta) IPB. (YDI/ris)