Tahun Ini, IPB Targetkan 60 Inovasi Didaftarkan ke Ditjen HKI
Tahun ini Direktorat Inovasi dan Kekayaan Intelektual Institut Pertanian Bogor (IPB) menargetkan sekitar 60 inovasi IPB didaftarkan ke Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Demikian disampaikan Dr. Ir. Syarifah Iis Aisyah, Direktur Inovasi dan Kekayaan Intelektual IPB dalam acara Pelatihan Penelusuran dan Penulisan Deskripsi Paten yang digelar Kamis (6/2) di Kampus IPB Taman Kencana, Bogor. Lebih lanjut Dr. Syarifah menambahkan inovasi harus didorong untuk dapat memiliki hak paten, terlebih IPB saat ini sudah mengubah tagline menjadi Inspiring Innovation with Integrity. “Sehingga inovasi harus betul-betul dikelola dengan baik dan fokus,” ucap Dr. Syarifah.
“Melalui pelatihan ini para inventor dapat memiliki pemahaman tentang pelatihan dan kekayaan intelektual (KI), juga dapat deskripsi paten yang betul-betul perfect,” tambahnya. Diharapkan selesai pelatihan mereka mempunyai suatu draft proposal yang bisa didaftarkan terutama untuk program dalam waktu dekat yaitu raih HAKI dan Uber HAKI.
Sementara itu, di hadapan puluhan para peneliti, Kasubdit Kekayaan Intelektual IPB, Dr. drh. I Ketut Mudite Adnyane, M.Si membahas terkait aturan yang menyebutkan pemegang paten yang merupakan Aparatur Sipil Negara (ASN), pemegang patennya adalah instansi. “Artinya invensinya milik negara, namun hak ekonomi melekat pada inventor. Royalti terkait riset dan development pun diatur,” ucapnya.
Selain itu, Dr. Syarifah menyebutkan bahwa masih menjadi tantangan dalam komersialisasi teknologi adalah perbedaan antara kebutuhan industri dan hasil riset perguruan tinggi. “Hasil riset yang masih skala laboratorium baru belum teruji, belum ada prototipe dan mempunyai risiko tinggi juga kurangnya kepercayaan pelaku bisnis di Indonesia terhadap riset-riset yang dihasilkan perguruan tinggi. Tidak hanya itu keterbatasan dana ventura yang diperlukan untuk start up bisnis juga menjadi kendala dalam pengembangan inovasi dana riset yang belum memadai untuk riset multi years dan pelaksanaan temu bisnis pun belum efektif,” paparnya. (dh/ris)
