IPB Gandeng Oxford dan Queensland Gelar Seminar dan Lokakarya Pangan
Sekolah Vokasi Institut Pertanian Bogor IPB (SV IPB) bekerjasama dengan Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (PERHEPI) dan "Interdiciplinary Food System Training and Learning" (IFSTAL) Program (Oxford University) dan University of Queensland Australia menyelenggarakan kegiatan seminar-lokakarya "Food System Dinamics” di IPB International Convention Centre, Kamis (21/2). Kegiatan ini diikuti oleh para senior agroekonom dari berbagai instansi diantaranya: IPB, PERHEPI, Kemenko Perekonomian, Kementerian Pertanian, Universitas Padjadjaran, UNS, Polbangtan Bogor, Universitas Jember, PSEKP, Dinas Pertanian Kota Bogor dan Universitas Sahid Jakarta.
Acara dibuka Dekan Sekolah Vokasi IPB, Dr. Ir. Arief Daryanto, DipAgEc, MEc diikuti dengan kata sambutan oleh Ketua Umum PERHEPI Prof. D. Ir. Hermanto Siregar, MEc. Pembicara dalam kegiatan ini adalah Dr. John Ingram selaku koordinator Program IFSTAL dari Oxford University dan Prof. Bill Bellotti dari Queensland University. Kegiatan dilanjutkan dengan presentasi oleh kedua pembicara mengenai “Global Food System”, “Nutrition Challenges”, “Key Issues in Food System”, “Food System Thinking”, “Policy Intervention in the Food System”.
Tujuan dari kegiatan ini adalah mengubah paradigma pendekatan sektoral menjadi pendekatan sistem pangan global. Tujuan lain adalah agar para peserta menjadi agen perubahan di lingkungannya masing-masing bagaimana merumuskan model dan implementasi food system yang baru yang efisien, inklusif, berdaya tahan terhadap perubahan iklim (climate-resillient), inklusif, terkait dengan gizi dan kesehatan, layak secara bisnis dan berkelanjutan.
“Ketahanan pangan di Indonesia terus membaik, tetapi sektor pangan kita saat ini masih bersifat fragmented, broken links antar sub sistem dan masih banyak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Pendekatan sistem pangan membantu mengatur pemikiran kita tentang bagaimana berbagai aktor (pelaku) sistem pangan dapat bersatu untuk meningkatkan ketahanan pangan dan gizi,” ujar Dr. Arief Daryanto. (AD/ris)
