Peneliti IPB Gali Potensi Daun Kipahit Sebagai Penurun Demam
Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor (FKH IPB) melakukan penelitian terkait potensi daun Kipahit sebagai penurun demam (antipiretik). Para peneliti tersebut adalah Firda Agustin, Wasmen Manalu dan Andriyanto.
Wasmen menjelaskan bahwa demam adalah suatu respons peningkatan suhu tubuh yang disebabkan oleh infeksi dan materi toksik yang memengaruhi pusat pengaturan temperatur tubuh. Hampir semua penyakit, baik yang menular maupun tidak menular seperti malaria, demam berdarah, atau penyakit infeksi lainnya, ditandai dengan gejala demam.
Wasmen mengatakan beberapa penelitian terkait antipiretik alami maupun sintetis menunjukkan adanya potensi suatu senyawa yang mampu menurunkan demam melalui penghambatan sintesis prostaglandin dengan menurunkan aktivitas enzim cyclooxygenase (COX) dan menghambat keberadaan sitokin proinflamasi sehingga peradangan dapat dikurangi pada kondisi demam.
Salah satu tanaman berkhasiat yang memiliki mekanisme kerja menghambat enzim COX ialah daun tanaman Kipahit (Tithonia diversifolia). Berdasarkan senyawa aktif dan mekanisme kerja daun Kipahit, tanaman ini diperkirakan dapat menurunkan demam (antipiretik) dan sitokin proinflamasi. “Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui khasiat daun Kipahit sebagai antipiretik melalui pendekatan sitokin proinflamasinya,” katanya.
Ia menambahkan, hewan coba yang digunakan pada penelitian ialah tikus jantan galur Sprague-dawley (bobot 150-200 g) yang telah di adaptasikan selama 2 minggu. Induksi demam pada tikus pecobaan dilakukan dengan menyuntikkan vaksin DTP HB-Hib dosis 0.2 m L/200 g pada bagian otot paha.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tikus percobaan mengalami awal demam pada menit ke-30 pasca penyuntikan dan puncak demam terjadi pada menit ke-90 pasca penyuntikan. Pemberian Ekstrak Etanol Daun Kipahit (EEDK) dosis 100 dan 200 mg/kg merupakan rentang dosis efektif yang dapat menurunkan suhu rektal tikus percobaan yang diinduksi demam.
Tahap penelitian berikutnya menunjukkan bahwa EEDK dosis 100 mg/kg terbukti efektif menurunkan demam dan sitokin proinflamasi. Senyawa aktif pada EEDK, yakni steroid, tanin, dan saponin, diduga berperan sebagai antipiretik alami. Hasil penelitian juga mengindikasikan bahwa pemberian EEDK tidak memberikan efek gangguan fungsi pada organ hati dan ginjal.
“Kesimpulan dari penelitian ini ialah EEDK memiliki aktivitas antipiretik,” ujarnya.(AT/Zul)
