Srikandi IPB Unjuk Gigi pada Olahraga Tradisional, TAFISA Games

Srikandi IPB Unjuk Gigi pada Olahraga Tradisional, TAFISA Games

srikandi-ipb-unjuk-gigi-pada-olahraga-tradisional-tafisa-games-news
Berita

Mahasiswi Institut Pertanian Bogor (IPB) menjadi salah satu peserta dalam perhelatan olahraga rekreasi dunia atau TAFISA Games yang ke-enam di Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta. Mereka adalah Puput Werdhiwati, Pipit Werdhiwati, Lia Nuryanah, Siti Nur Karimah, Yusvita NQ Putri, Norul Dewi, Aeska Alya Sukma dan Siti Karimah. Dalam acara tersebut kontingen IPB memperoleh Juara kedua Hadang dan Juara kedua Dagongan Putri Cabang Olahraga Tradisional dalam TAFISA Games 2016.

TAFISA (The Association For International Sport for All ) atau Asosiasi Olahraga untuk Semua Orang merupakan olahraga yang memprioritaskan kesehatan, kebugaran, dan membawa kegembiraan kepada pelakunya. TAFISA Games digelar setiap empat tahun sekali. Sebanyak 87 negara dan 29 provinsi bertanding dalam ajang tersebut. TAFISA menjadi suatu event dan momentum berkumpulnya masyarakat dunia untuk  berolahraga dan melihat bahwa fondasi olahraga benar-benar dipupuk dari olahraga tradisional dan olahraga rekreasi, seperti Hadang, Dagongan dan sebagainy.

Hadang adalah permainan tradisional yang dimainkan secara beregu dengan jumlah anggota regu sebanyak delapan orang dan terdiri dari lima orang pemain inti serta tiga orang cadangan. Untuk bermain diperlukan area petak persegi panjang dengan ukuran 15 m x 9 m. Petak kemudian dibagi menjadi 6 petak (per petak berukuran 4,5 m x 5 m) dan pinggiran lapangan diberi tanda dengan kapur atau garis yang tidak mudah luntur. Penetapan nilai diambil dari setiap pemain yang berhasil melewati garis depan sampai dengan garis belakang diberi nilai satu, dan pemain yang juga berhasil melewati garis belakang sampai dengan garis depan diberi nilai satu.

Dagongan adalah permainan olahraga tradisional yang mempergunakan bambu dengan ukuran tertentu sebagai alat mengadu kekuatan untuk  saling mendorong antara regu yang satu dengan regu yang lain. Permainan  Olahraga tradisional dagongan ini merupakan kebalikan dari permainan tarik tambang. Permainan dagongan, kedua regu saling mendorong sekuat tenaga untuk mencari kemenangan. Area petak untuk lomba berbentuk persegi panjang dengan ukuran 2 m x 18 m dan bambu yang digunakan berukuran panjang 5 m hingga 8 meter dengan diameter 12 cm – 18 cm. Peserta dinyatakan sebagai pemenang, apabila salah satu regu dapat mengalahkan regu lain dengan score 2 – 0 atau 2 – 1 (kalau terjadi seri).

“Lombanya sangat sportif dan sangat menguras energi karena dua hari pertandingan harus selesai mulai dari penyisihan hingga final. Tim IPB putri merangkap di dua cabang olahraga dan keduanya lolos hingga partai final. Jadi bisa dibayangkan seberapa besar energi yg harus dikeluarkan untuk mendapat gelar juara. Asyik banget pokoknya, penuh keringat dan tangis penuh semangat membela IPB,” ungkap Puput.

Puput menuturkan, perjuangan yang paling diingat adalah ketika latihan mempersiapkan pertandingan. Latihan dilaksanakan setelah kegiatan akademik selesai, yaitu selepas maghrib hingga larut malam. Ketika angin malam sudah tak mampu untuk dilawan, saat itu juga latihan baru diakhiri. “Merdeka bangetlah ketika tim putri bisa melaju pesat sampai partai final, benar-benar tidak terduga,” ujarnya penuh rasa syukur.

Motivasi Puput dan kawan-kawan ikut adalah untuk turut serta dalam menjaga dan mengembangkan budaya bangsa, khususnya olahraga tradisional Indonesia. Selain itu, ia juga termotivasi untuk meningkatkan kualitas dan kemampuan dalam bermain olahraga tradisional yang sebelumnya sudah dipertandingankan antar perguruan tinggi. Belum tentu ada kesempatan kedua untuk bermain olahraga tradisional di depan publik internasional. “Sangat bangga bisa berpartisipasi mewakili IPB dalam menjaga dan mengembangkan budaya bangsa, khususnya olah raga tradisonal. Semoga IPB tetap mendukung para pejuang olah raga tradisional,” imbuhnya dengan semangat.(AT/ris)