Guru Besar IPB Menyuap Kota Menjadi Lanskap Produktif

Guru Besar IPB Menyuap Kota Menjadi Lanskap Produktif

guru-besar-ipb-menyuap-kota-menjadi-lanskap-produktif-news
Berita

Masalah pertanian  menjadi polemik besar yang tidak kunjung usai bagi bangsa ini.Kini, luas lahan pertanian yang terus-menerus berkurang  yang juga diikuti dengan menurunnya jumlah petani, perlu dijadikan salah satu fokus perhatian untuk mendapatkan solusi terbaik bagi Indonesia. Terlebih bagi daerah kota. Kota yang feno menanya dipadati penduduk  selalu identik dengan gedung yang tinggi menjulang, mall yang besar, kehidupan masyarakat yang konsumtif, serta kemacetan.Namun, ada kalanya kota membutuhkan tata ruang yang lebih fungsional, memberdayakan lanskap agar lebih produktif. Seperti inovasi yang saat ini sedang dikembangkan oleh Prof. Dr. Hadi Susilo Arifin, Guru Besar Arsitektur Lanskap Institut Pertanian Bogor (IPB),  yakni mengembangkan urban farming (pertanian perkotaan). “Saya ingin citra pertanian itu lebih baik, pertanian tidak selalu ndeso, tidak selalu kotor, petaninya juga tidak selalu miskin,” ujarnya.

Prof Hadi mengungkapkan bahwa kegiatan urban farming ini merupakan salah satu solusi multifungsional yang dapat diterapkan di seluruh areal perkotaan. Praktik pertanian perkotaan bisa dimulai dari skala pekarangan, kebun campuran, taman lingkungan, area pemakaman, lahan terbengkalai, jalur hijau jalan, jalur hijau koridor rel kereta api, bantaran sungai, taman kota, interior gedung dan eksterior gedung pencakar langit, atau di lahan yang secara khusus disediakan untuk praktik pertanian modern.  Misalnya pada gedung-gedung tinggi dapat dimanfaatkan sebagai lahan pertanian dengan menggunakan vertical garden/vertical culture dan green top garden.

Koridor rel kereta api dapat menjadi tempat untuk diterapkannya urban farming, bantaran di kiri dan kanannya  dimanfaatkan menjadi tempat untuk tanaman produktif, seperti sayuran atau pepohonan buah. Selain itu, area pemakaman yang memiliki ruang terbuka dapat juga dimanfaatkan untuk ditanami dengan pohon-pohon buah-buahan, ataupun bunga seperti kamboja, kenanga, kantil yang dapat dipanen untuk produksi minyak atsiri sehingga memberikan manfaat ganda untuk masyarakat. Praktik pertanian perkotaan pada umumnya memilih produk atau komoditi yang mempunyai nilai ekonomi tinggi, produk segar yang bisa langsung dikirim ke pasar swalayan, bersifat produk organik, dan bebas pestisida kimiawi.

Sesungguhnya produk urban farming tidak hanya dari tanaman, tapi bisa juga produk ternak dan ikan, baik untuk konsumsi maupun hias. Praktik urban farming, sisi kiri dan kanan bantaran sungai dapat dimanfaatkan untuk penanaman pohon-pohon yang produktif atau tanaman semusim lainnya. Lahan yang berada di kanan dan kiri sungai disebut bantaran sungai merupakan lahan milik negara. Sehingga penggunaannya sebaiknya untuk ruang terbuka hijau yang bermanfaat bagi masyarakat umum.    

Urban farming selain memberikan manfaat ekonomis bagi masyarakat perkotaan, juga memberikan manfaat ekologis terhadap peningkatan kualitas udara, tata tanah dan tata air. Semakin banyak daerah perkotaan yang hijau maka akan banyak karbondioksida (CO 2 ) yang diserap, sehingga dapat mengurangi polusi udara yang ada di daerah perkotaan. Perakarannya dapat menstabilkan struktur tanah sehingga terhindar dari erosi dan longsor. Tanaman juga dapat menyimpan air. Bukan hanya itu, manfaat tanaman pada praktik urban farming juga  dapat mengkonservasi keanekaragaman hayati pertanian. Keragaman jenis tanaman pertanian dapat terlestarikan, di lain pihak ruang terbuka hijau ini bisa mengundang satwa liar seperti burung perkotaan, serangga, kupu-kupu, tupai, dan tidak kalah penting ruang terbuka hijau pertanian dapat memberikan nilai estetika bagi lingkungan yang ada di sekitarnya.

Dilihat dari segi ekonomi, manfaat yang dapat dirasakan dari urban farming adalah terwujudnya efisiensi kerja, yakni sedikitnya lahan namun hasil produksi pertanian lebih banyak jika dibandingkan pedesaan. Untuk itu, perlu didukung oleh teknologi dan dilakukan secara intensif. Selain itu, urban farming dapat juga dijadikan sebagai strategi untuk mencegah mahalnya pangan. Saat ini produk pertanian yang mahal akibat rente ekonomi yang tidak adil, yang justru mengakibatkan sebagian besar petani tidak mendapatkan kesejahteraan.

Kehidupan kota yang kini sedang berusaha untuk “back to nature” dapat menjadi peluang untuk digalakkannya urban farming seperti yang dikatakan oleh Prof Hadi bahwa “perkotaan bukan hal yang mustahil untuk digalakkannya urban farming”.(SM)