Dengan Transplantasi Sel, Mahasiswa IPB Ciptakan Ikan Nila Monoseks

Dengan Transplantasi Sel, Mahasiswa IPB Ciptakan Ikan Nila Monoseks

dengan-transplantasi-sel-mahasiswa-ipb-ciptakan-ikan-nila-monoseks-news
Berita

Komoditas ikan nila merah (Oreochromis sp.) memiliki potensi ekonomi yang tinggi. Ikan ini selain dikonsumsi di Indonesia, beberapa  jenis diekspor ke luar negeri seperti negara Timur Tengah, Jepang, Singapura dan Amerika. Peningkatan produksi ikan nila berkualitas tinggi perlu dilakukan guna memenuhi permintaan pasar dan memacu pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

Melihat peluang yang menarik tersebut sekelompok mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor (FPIK IPB) yang terdiri atas Muhammad Lutfi Abdurrachman, Afif Abdurrahman, Dede Priyadi, Meri Alvina Taufik dan Siska Aliyas Sandra terdorong meneliti peningkatan produksi ikan nila dari rekayasa nila sintetis. Melalui ajang Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian (PKM-P) 2017 mereka mengembangkan ide kreatifnya.

Judul PKM-P Muhammad dkk ini berjudul “Nila Merah Sintetis (Hasil Transplantasi Sel Testikular): Transplantasi Sel Testicular Ikan Nila Merah pada Ikan Nila Hitam. Penelitian ini menggunakan teknik transplantasi sel testikular untuk menghasilkan induk ikan nila supermale (YY) yang nantinya akan digunakan sebagai induk untuk menghasilkan larva ikan nila monoseks jantan (keseluruhan anaknya berkelamin jantan). Hal ini dilakukan untuk membantu pembudidaya ikan nila memperoleh indukan ikan nila merah yang dapat menghasilkan anakan monosek jantan. Seperti diketahui di kalangan pembudidaya, dalam budidaya ikan nila lebih baik jika ikan nila yang dipelihara adalah ikan nila jantan. Ikan nila jantan lebih cepat tumbuh dibandingkan betinanya “Biasanya caranya dengan suntik hormon, tetapi cara ini beresiko meninggalkan residu hormon buatan di lingkungan,”  terang Muhammad Lutfi Abdurrachman menjelaskan alasan penggunaan metode transplantasi.

Transplantasi atau cangkok memindahkan jaringan atau organ dari suatu individu ke individu lain. Transplantasi ini dengan memasukan sel spermatogonia ke dalam rongga perut larva ikan, lalu sel akan berubah menjadi telur atau sperma di dalam ikan tersebut. Umumnya teknik transplantasi ini dilakukan untuk  kegiatan konservasi genetik ikan-ikan yang terancam punah dan sebagai induk pengganti dalam produksi benih. “Teknologi ini cocok untuk menghasilkan ikan nila merah monoseks jantan (semua jantan),” tambahnya.

Penelitian yang dilakukan di Laboratorium Reproduksi dan Genetika Ikan Departemen Budidaya Perairan IPB, Bogor ini menggunakan larva ikan nila hitam (Oreochromis niloticus) steril yang berumur tiga hari. Larva ini selanjutnya disuntik dengan sel testikular ikan nila merah yang telah diberi pewarna untuk memudahkan saat melihat di mikroskop. Setelah itu ikan dipelihara dan diberi pakan alami artemia serta cacing sutera hingga siap untuk dipijahkan (reproduksi).

Menurut Muhammad, alasan timnya memilih ikan nila sebagai obyek penelitian karena ikan ini dapat hidup dalam berbagai macam kondisi lingkungan, bahkan dalam air yang berkualitas rendah sekalipun. “Ikan nila akan memijah pada musim hujan, sehingga sangat cocok dengan iklim di Indonesia yang pada umumnya sering hujan ini,” tutur mahasiswa asal Cianjur ini.

Kelompok ini berharap penelitian yang mereka lakukan dapat menjadi pembuka jalan bagi industri ikan nila dalam meningkatkan hasil produksinya. Terlebih ikan nila termasuk ikan yang mudah dibudidayakan dan  memiliki nilai gizi  tinggi. (GG/ris)