Program USAID SHERA untuk IPB
Institut Pertanian Bogor (IPB) mendapatkan Program U.S. Agency for International Development (USAID) Sustainable Higher Education Research Alliances ( USAID SHERA), senilai 3 juta dolar AS dalam bentuk hibah penelitian. Hal yang sama juga diperoleh Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI), Universitas Padjadjaran (Unpad) dan Universitas Gadjah Mada (UGM). Program USAID SHERA diresmikan oleh Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Ristekdikti) RI, Mohamad Nasir bersama Wakil Duta Besar Amerika Serikat, Brian McFeeters di Gedung D Kemenristekdikti RI, belum lama ini.
Rektor IPB, Prof. Dr. Herry Suhardiyanto telah menunjuk Prof. Dr. Bambang Purwantara sebagai Direktur dan Dr. Alan F. Koropitan sebagai Wakil Direktur SHERA di IPB dengan payung program “Interdiciplinary Graduate Education and Research in Animal Biotechnology and Coral Reef Fisheries”.
Prof. Bambang mengatakan, program ini merupakan hibah pemerintah Amerika Serikat melalui USAID yang dikoordinasikan oleh Kemenristekdikti dengan tujuan untuk penguatan kapasitas akademik dan riset di perguruan tinggi. Melalui USAID SHERA, diharapkan terjadi peningkatan kapasitas sumberdaya manusia, penelitian dan pengembangan (litbang) di perguruan tinggi dan perbaikan mutu riset. Hal tersebut diharapkan mampu mendongkrak peningkatan jumlah dan mutu publikasi internasional, serta peningkatan lingkungan yang kondusif untuk penyelenggaraan riset yang berkualitas.
USAID SHERA menetapkan 5 (lima) bidang fokus, yaitu IPB untuk topik Food Security and Self Sufficiency; UI untuk topik Urban Development and Planning; ITB untuk topik Innovative Technologies; Unpad untuk topik Public Health and Infection Disease; dan UGM untuk topik Environment, Energy and Maritime Sciences. Diharapkan kelima bidang tersebut dapat membentuk Centers for Collaborative Research (CCR). Melalui CCR, akan didorong terbentuk cluster ilmuwan Indonesia dan Amerika Serikat untuk menyelengarakan riset bertaraf dunia dalam lima bidang fokus tersebut. Setiap CCR terdiri dari satu perguruan tinggi lead sebagai koordinator yang bermitra dengan sekurang-kurangnya 3 (tiga) perguruan tinggi di Indonesia dan 1 (satu) perguruan tinggi di Amerika Serikat.
Prof Bambang memaparkan, mulanya ada 67 proposal dari perguruan tinggi negeri (PTN) untuk bekerjasama dengan perguruan tinggi di Amerika. Sebanyak 48 diantaranya lolos seleksi administratif. Namun, kemudian dipilih 17 proposal terbaik dan diseleksi menjadi 13 proposal. Selanjutnya dipilih 5 proposal. Dari hasil evaluasi akhir, 5 bidang fokus tersebut IPB dipercaya untuk mengelola bidang fokus Food Security and Self Sufficiency. Topik yang diajukan merupakan amalgamasi antara kelompok ternak (sapi) yang diajukan oleh Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) IPB dan perikanan terumbu karang oleh Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB.
Prof. Bambang menegaskan, IPB sebagai leader dalam menjalin kerjasama dengan dua perguruan tinggi di Amerika Serikat yaitu Mississippi State University (MSU) dan University of Rhode Island (URI) dan 7 (tujuh) mitra perguran tinggi di Indonesia yaitu Universitas Syiah Kuala, Universitas Padjadjaran, Universitas Brawijaya dan Universitas Nusa Cendana untuk kajian bioteknologi reproduksi ternak; dan Universitas Udayana, Universitas Mataram dan Universitas Negeri Papua untuk kajian perikanan terumbu karang.
Di samping itu, beberapa mitra yang akan sangat berhubungan dengan penerapan hasil-hasil penelitian ini, seperti Balai Besar Inseminasi Buatan, Singosari; Balai Inseminasi Buatan Lembang; dan Balai Embrio Ternak Cipelang, merupakan mitra strategis untuk pengembangan mutu ternak sapi. “Sejumlah pemerintah daerah, LSM dan swasta yang merupakan pemangku kepentingan pengembangan potensi perikanan terumbu karang akan banyak terlibat dalam program ini,” ujarnya.
“Harapannya, kerjasama dan kemitraan dapat diwujudkan dalam rangka memajukan kemandirian pangan nasional dari sumber-sumber ternak, perikanan dan kelautan dengan baik. CCR yang akan dibentuk dan dibangun dapat menjadi center of excellent untuk penyediaan pangan hewani bangsa Indonesia. Program USAID SHERA ini akan berjangka waktu hampir empat tahun, dimulai efektif April 2017 dan berakhir Desember 2020,” pungkasnya. (Awl)
