Peningkatan Kapasitas Pemantauan Hutan Melalui Teknologi Satelit Observasi Bumi

Peningkatan Kapasitas Pemantauan Hutan Melalui Teknologi Satelit Observasi Bumi

peningkatan-kapasitas-pemantauan-hutan-melalui-teknologi-satelit-observasi-bumi-news
Berita

Kegiatan pemantauan hutan adalah proses yang sangat penting dalam pengelolaan sumberdaya hutan secara lestari. Saat ini,  metode yang paling efektif untuk melaksanakan pemantauan hutan adalah melalui teknologi satelit observasi bumi, terutama satelit optikal, dimana informasi yang terdapat pada areal yang luas dapat dimonitor dalam waktu yang lebih singkat.

Sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapabilitas sistem pemantauan kawasan hutan di beberapa negara tropis, United Kingdom Space Agency (UKSA) bersama dengan Ecometrica telah menginisiasi Forests2020 yang dirancang untuk diimplementasikan selama tiga tahun untuk mendukung kegiatan REDD+, Forest Law Enforcement, Governance and Trade (FLEGT), aspek tata kelola hutan serta konservasi biodiversitas.  Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Kemitraan Internasional (International Partnership Program/IPP), yang bertujuan untuk mengurangi angka deforestasi dan degradasi hutan di tahun 2020, serta mempromosikan tata kelola hutan dan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan yang lebih baik.

Pada tanggal 31 Januari 2017, bertempat di Ruang Meeting A, IPB International Convention Center (IICC) Bogor, diadakan Launching kegiatan “Forests 2020” dan diskusi peningkatan kapasitas pemantauan hutan nasional melalui pemanfaatan teknologi satelit observasi bumi. Tujuan dari diadakannya lokakarya ini adalah untuk mempresentasikan rencana implementasi program Forests2020 kepada institusi yang terkait dengan pemantauan hutan. Selain itu juga untuk mendapatkan masukan dan saran dari institusi terkait untuk kemudian diintegrasikan ke dalam rencana detil program Forests2020 selama tiga tahun ke depan.

Undangan yang datang berasal dari 33 instansi baik swasta maupun pemerintah. Diantaranya adalah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Badan Restorasi Gambut, LAPAN, Badan Informasi Geospasial (BIG), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Pertanian, Perum Perhutani, BMKG, Fakultas Kehutanan IPB, WRI Indonesia, WWF Indonesia, Forest Watch Indonesia, CIFOR, ICRAF, UNDP, MCA-Indonesia, CPI, UNORCHID, Embassy of Norway, dan APRIL Group.

Acara dibuka oleh Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Kehutanan IPB, Dr.  Lailan Syaufina, M.Sc. Kemudian dilanjutkan dengan presentasi dari UK Climate Change Unit dan PT Hatfield Indonesia. Untuk menampung masukan, saran, pertanyaan dari peserta, diadakan diskusi yang dipandu oleh Prof. Lilik Budi Prasetyo sebagai moderator. Acara kemudian dilanjutkan dengan Focus Group Discussion dengan membahas tiga topik yaitu: 1) peningkatan kapabilitas untuk mendeteksi dan mengukur perubahan penutupan hutan, 2) Identifikasi area-area rawan kebakaran hutan dan mengalami tekanan untuk terkonversi, dan 3) pembangunan infrastruktur digital untuk meningkatkan akses dan prosesing citra satelit, serta kemampuan untuk diseminasi informasi monitoring hutan kepada pengguna. Dilaksanakan juga teleconference dengan Ecometrica di London.***