Sebagai upaya mewujudkan kampus IPB ramah lingkungan (zero waste, zero emission, rich in bio- and cultural-diversity) yang kondusif bagi proses pembelajaran sukses, serta aman dan nyaman untuk menopang pengembangan program agro-eco-edu-tourism, IPB mencanangkan “IPB Green Campus 2020”. Program ini juga digagas untuk mengembangkan perilaku sivitas akademika menuju Green Culture.
Salah satu penataan yang sedang dilakukan adalah sistem green transportation. Agar sistem ini berjalan dan tepat guna, Rektor IPB, Prof. Dr. Herry Suhardiyanto mengajak mahasiswa berdiskusi terkait pelaksanaan green transportation yang dicanangkan sejak tanggal 1 September 2015 lalu.
Diskusi antara Rektor dengan mahasiswa dilaksanakan pada hari Kamis (17/9), diikuti oleh mahasiswa yang diwakili oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) se IPB, Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) IPB serta Forum Mahasiswa Pasca Sarjana (Forum Wacana) IPB. Pertemuan diselenggarakan di Ruang Sidang Rektor, gedung rektorat Andi Hakim Nasoetion, Kampus IPB Dramaga, Bogor.
Untuk mendukung sistem green transportation, maka dilakukan beberapa penataan seperti mendorong penggunaan sepeda, penambahan jumlah sepeda dan shelter sepeda, pengembangan pedestrian, pengembangan transportasi massal, penataan parkir kendaraan pribadi, membebaskan ruas tertentu dari motor dan mobil serta kampanye green campus sebagai budaya sivitas akademika IPB. Kendaraan bermotor khususnya roda dua akan ditata di empat kantung parkir yang telah disediakan, yaitu di lapangan parkir Gedung Graha Widya Wisuda (GWW), Green TV, Fakultas Peternakan dan lapangan parkir posko Resimen Mahasiswa (Menwa). Sebagai alternatif, IPB menyediakan transportasi massal berupa mobil listrik dan bis yang akan melayani kebutuhan transportasi sivitas IPB yang terbagi menjadi 5 koridor. Ke depannya penggunaan bis, mobil listrik dan parkir akan dikenakan tarif sebagai biaya operasional.
Dalam kesempatan ini mahasiswa mengkritisi beberapa hal terkait pelaksanaan green campus seperti konsep, penarikan tarif, fasilitas dan kesiapan operasional. “Dalam mewujudkan green campus mengapa yang didahulukan adalah green transportation, mengapa tidak didahulukan membangun mindset dan knowledge sivitas untuk peduli pada lingkungan?” ujar Ketua BEM KM IPB, Dadan. “Justru praktek seperti ini adalah hal yang strategis, pemberlakuan sistem ini sekaligus sebagai pembelajaran bagi kita bersama akan pentingnya green campus. Dengan ini akan menjadi titik masuk edukasi dimana banyak dimensi yang terkait seperti perilaku hemat energi, budaya mengantri dan perilaku peduli lingkungan. Bisa jadi seiring pengembangan proses green transportation ini membuka jalan pembenahan yang selama ini harus kita lakukan,” jelas Rektor.
Terkait penarikan tarif pemakaian bis dan mobil listrik, Rektor menegaskan bahwa bagi mahasiswa yang tidak mampu akan mendapatkan keringanan untuk dapat menggunakan fasilitas tersebut secara gratis. “Pembenahan dan penyesuaian juga akan terus dilakukan seiring berjalannya proses dari sistem ini, justru jika kita tergesa-gesa bisa jadi fasilitas yang kita bangun nantinya tidak tepat guna,” tegas Rektor menanggapi kesiapan operasional dari pelaksanaan green transportation ini.
Selain green transportation, untuk mewujudkan green campus kedepannya IPB juga memperhatikan elemen lain seperti : (1) green energy dengan langkah pengurangan penggunaan energi listrik bersumber dari bahan bakar fosil (termasuk PLN) dan menggantikan dengan solar cell; kemungkinan untuk membuat pembangkit listrik tenaga air (MHPP) dan biogas untuk kepentingan kampus IPB Darmaga; serta pengembangan riset untuk bio-energy berbasis biomassa; (2) green building & green open space dengan pembatasan penggunaan AC dan memperbaiki sistem sirkulasi udara, menghijaukan kembali lahan parkir dalam rangka meningkatkan kenyamanan dan keindahan kampus, serta mengembangkan koleksi plasma nutfah pertanian (buah, kayu, dll); (3) green movement/green culture dengan mengubah pola pikir, sikap, dan perilaku sivitas untuk berorientasi kepada keramahan lingkungan melalui kampanye penyadartahuan, gerakan sosial yang massif, pengembangan green champions, dan lain-lain. Langkah lain untuk mewujudkan green movement/green culture adalah pembangunan kanopi sebagai koridor untuk pejalan kaki; mewujudkan “zero waste campus”; pemilahan dan pengolahan limbah (padat, cair, gas, organisme); serta penggunaan bahan yang mudah terdegradasi. (as)