Kekeringan Melanda, CCROM-SEAP LPPM IPB Implementasikan Asuransi Index Iklim di Kabupaten Indramayu

Kekeringan Melanda, CCROM-SEAP LPPM IPB Implementasikan Asuransi Index Iklim di Kabupaten Indramayu

CCROM-di-Indramayu
Berita
Fenomena El Nino yang terjadi pada tahun 2015 telah memicu terjadinya kekeringan di beberapa wilayah Indonesia. Salah satu sektor penting yang rentan terhadap dampak kekeringan adalah pertanian, terutama wilayah-wilayah yang menjadi lumbung padi di Indonesia. Indramayu, sebagai daerah produksi padi di Jawa Barat pernah mengalami gagal panen akibat kekeringan. Mengingat besarnya dampak yang disebabkan oleh terjadinya iklim ekstrim ini, maka lembaga penelitian melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan penelitian diharapkan mampu mengatasi permasalahan tersebut.
 
Pusat Pengelolaan dan Peluang Resiko Iklim kawasan Asia Tenggara dan Pasifik (CCROM-SEAP) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Institut Pertanian Bogor (IPB) bersama dengan International Research Institute for Climate and Society (IRI) Columbia University New York melalui pendanaan United States Agency for International Development (USAID) mencoba untuk menjawab tantangan dampak kekeringan tersebut dengan mengimplementasikan Asuransi Indeks Iklim (Climate Index Insurance) di wilayah Kabupaten Indramayu, Jawa Barat sejak 2011. Asuransi Index Iklim merupakan serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk melindungi para petani dari kerugian akibat gagal panen saat kekeringan dengan mengasuransikan parameter iklim yang disepakati, misalnya nilai curah hujan decadal terendah pada kejadian kekeringan. 
 
Menindaklanjuti kegiatan Simulasi Asuransi Index Iklim pada bulan Juni 2014, pada tanggal 24-27 Agustus 2015 CCROM-SEAP LPPM IPB melaksanakan kegiatan evaluasi indeks iklim dan Pembayaran Asuransi Index Iklim kepada para petani di Kabupaten Indramayu dengan terpenuhinya indeks kekeringan akibat adanya fenomena El-Nino tahun 2015. Kegiatan ini diikuti oleh lebih dari 500 petani dan dibantu oleh pihak Balai Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Pertanian (BKPPP) Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu. Melalui asuransi, petani tidak hanya terlindungi di masa kekeringan namun juga dapat lebih leluasa menerapkan teknologi pertanian agar dapat memperoleh hasil produksi tinggi di musim kering.
 
Hal yang juga menarik dalam konsep asuransi iklim ini ialah penggunaan indeks kekeringan berdasarkan data curah hujan satelit, sehingga dapat meminimalisir perselisihan dan mengefisienkan biaya administrasi asuransi konvensional yang memerlukan survei lapangan. Asuransi indeks ini sangat dianjurkan bagi para petani untuk melindungi para petani dari kerugian gagal panen akibat kekeringan. Selain itu, dapat mendorong para petani dalam penggunaan pupuk berkualitas dan teknologi maju sebagai upaya peningkatan kualitas hasil panen.***