Prof.Dr. Khaswar Syamsu, Guru Besar dari Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor (Fateta IPB) menghasilkan berbagai macam bioproduk yang berasal dari limbah pertanian. Bioproduk adalah bahan yg dihasilkan oleh “makhluk halus” alias mikroba. Bioproduk yang dihasilkannya adalah bioethanol, bioplastik dan bioselulosa.
Menurutnya kertas dapat dibuat dari semua bahan setengah jadi (pulp) yang mengandung selulosa. Namun demikian, selulosa kayu sampai saat ini masih mendominasi bahan utama yang digunakan untuk proses pembuatan kertas. Selulosa mikrobial adalah alternatif pengganti kayu yang memiliki kelebihan tingkat kemurnian tinggi karena terbebas dari kandungan lignin, proses isolasi yang mudah, memiliki kristalinitas dan produktivitas selulosa yang tinggi serta memiliki warna yang cenderung bening atau putih (sehingga tidak perlu bahan pemutih).
“Riset kami yakni pulp selulosa mikrobial dari nata atau campurannya dengan pulp kayu telah terbukti bisa digunakan sebagai bahan pembuat kertas yang kuat dan ramah lingkungan. Kualitasnya (indeks tarik dan indeks sobek) berada di atas kualitas kertas dari pulp Acacia mangium, jerami, bagas, dan pulp abaka. Daya serap airnya lebih rendah daripada kertas bungkus dan kertas dari batang pisang ambon. Sehingga kami simpulkan selulosa mikrobial ini dapat dijadikan alternatif dalam proses pembuatan kertas,” terangnya.
Berkat ketekunannya melakukan riset yang berbasis ramah lingkungan, beberapa riset Prof. Khaswar berhasil masuk dalam Business Innovation Center (BIC) Kementerian Riset dan Teknologi RI dan mendapatkan Tribute Award dari Rektor IPB.
Dalam orasi ilmiah yang digelar di Auditorium Andi Hakim Nasoetion, Kampus IPB Darmaga (16/9), Prof. Khaswar mengatakan mikroba lebih potensial untuk menghasilkan produk karena hanya membutuhkan waktu yang singkat untuk proses produksinya. Dengan judul orasi “Pengembangan Bioproduk Ramah Lingkungan untuk Meminimalkan Kerusakan Lingkungan”, Prof. Khaswar memaparkan hasil risetnya selama ini.
Kebutuhan bahan bakar minyak bumi meningkat setiap tahunnya, oleh karenanya perlu dipikirkan alternatif lain berupa bahan bakar minyak yang bisa diperbaharui. Perkembangan bahan bakar nabati bioetanol sampai saat ini belumlah menggembirakan karena harga yang belum kompetitif dengan harga BBM. Untuk dapat menurunkan ongkos produksi (harga jual juga turun), maka dapat dilakukan beberapa strategi yakni pencarian bahan baku yang murah, mudah didapat, dan tersedia dalam jumlah berlimpah, pencarian strain mikroba unggul dengan produktivitas tinggi serta pengembangan teknologi proses yang lebih produktif dan efisien dalam menghasilkan bioetanol.
Untuk meningkatkan produktifitas produksi bioetanol tanpa menurunkan efisiensi konversi substrat menjadi produk maka riset paling mutakhir dilakukan dengan menerapkan kultivasi sinambung respiratif-fermentatif.
“Produktivitas fermentasi bioetanol menggunakan substrat nira sorgum pada kultivasi sinambung dua tahap respiratif-fermentatif 5,7 kali lebih tinggi daripada produktivitas kultivasi batch yang dipraktekkan selama ini. Dan 1,7 kali lebih tinggi dibandingkan produktivitas kultivasi sinambung tanpa rekayasa bioproses pada volume bioreaktor yang sama,” ujarnya.
Bioplastik ramah lingkungan Selain bioetanol, Prof. Khaswar pun memanfaatkan mikroba untuk produksi bioplastik. Penelitian plastik ramah lingkungan yang mutakhir adalah bioplastik nanofiber selulosa asetat dari selulosa tandan kosong kelapa sawit. Untuk membentuk bioplastik, selulosa tandan kosong kelapa sawit diasetilasi dengan asetat anhibrida untuk menghasilkan selulosa asetat. Selulosa asetat memiliki kualitas sangat baik dengan transparansi yang baik, kekuatan tarik tinggi, tahan panas, daya serap air rendah dan mudah terdegradasi secara alami sehingga cocok digunakan sebagai bahan bioplastik.
“Karakteristiknya lebih baik dari PHA dan LDPE serta lebih mendekati kekuatan tarik PVC yaitu 20 Mpa. Aplikasinya bisa digunakan pada kemasan seperti plastik pembungkus sekali pakai langsung buang,” ujarnya.(zul)