“Kalau kita ingin swasembada pangan, maka harus mulai dengan swasembada benihnya. Rasanya mustahil akan swasembada pangan jika benihnya tidak ada”. Demikian dikatakan Guru Besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (Faperta IPB) Prof.Dr Memen Surahman saat konferensi pers pra orasi di Kampus IPB Baranangsiang Bogor, Kamis (4/6).
Menurutnya, banyaknya impor benih ada indikasi bahwa adanya persaingan varietas benih luar negeri lebih unggul dibandingkan dalam negeri atau memang kita belum punya benih unggulnya. “Terkait dengan impor benih, terutama pada tanaman pangan, yang diimpor adalah jenis hibrida yaitu padi hibrida dan jagung hibrida. Benih padi hibrida mencapai 12 ribu ton, jagung hibrida 65 ribu ton. Pada tanaman sayuran itu lebih banyak lagi meliputi kentang, bawang merah, kangkung, cabai, kacang panjang, gambas, banyak sekali sampai 21 macam hingga wortel. Impor bahan pangannya juga ada,” ujarnya.
Dari sisi supply, penyediaan bahan pangan akan ditentukan oleh luas area tanam. Produktivitas yang tinggi, berkaitan dengan benih unggul yang bermutu. Tetapi dengan jumlah penduduk yang banyak dan tidak terkendali akhirnya produksi tinggi akan kurang juga. Swasembada menjadi berat.
“Maka pengendalian penduduk menjadi penting. Menurut data, saat ini tingkat pertumbuhan penduduk Indonesia mencapai 1,49 persen. Artinya pertumbuhan penduduk sangat pesat. Disisi lain adalah tingkat konsumsi kita terhadap beras. Orang Indonesia makan terlalu banyak beras. Totalnya 136 kilogram per kapita per tahun. Kita harus tekan. Vietnam sudah mampu menekan hingga angka 76 kilogram per kapita per tahun. Kita harus turunkan dengan menambahkan sayur, lauk dan buah. Semuanya itu harus kita penuhi sendiri. Saya yakin kalau kita punya keinginan Indonesia bisa, tinggal keseriusannya,” imbuhnya
Untuk menyelesaikan permasalahan dan tantangan tersebut diperlukan langkah-langkah strategis. Salah satunya adalah melalui penggunaan benih unggul bermutu.
Benih merupakan input utama yang paling penting dan harus ada sebelum melakukan kegiatan usaha di bidang pertanian. Melalui penggunaan benih bermutu, produktivitas tanaman akan meningkat sehingga produksi pangan nasional juga akan meningkat. Dengan demikian ketahanan pangan akan tercapai.
Lebih jauh penggunaan benih bermutu juga akan meningkatkan kualitas hasil pertanian. Selain itu penggunaan benih bermutu akan menyebabkan biaya produksi menjadi lebih murah karena tidak perlu menyulam, dan tidak perlu banyak mengeluarkan biaya pestisida karena benih bermutu memiliki vigor yang tinggi dan lebih tahan terhadap deraan cuaca.
Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Memen menyampaikan tujuh pemikiran terkait peningkatan perbenihan di Indonesia. Tujuh pemikiran tersebut adalah 1) Swasembada benih setiap provinsi di Indonesia, 2) Swasembada benih di tingkat petani, 3) Perbaikan sistem pengkelasan benih, 4) Pengujian benih menggunakan marka molekuler, 5) Perbaikan sistem penyediaan dan sertifikasi benih kedelai, 6) Subsidi output lebih menjamin keberhasilan pertanian, dan 7) Status kesehatan benih menjadi standar dalam sertifikasi benih.
Prof. Memen menyoroti bahwa sistem kelas benih yang dianut sekarang perlu ditinjau lagi. Kelas benih berdasarkan generasi tidak relevan lagi. Di masa yang akan datang ada dua alternatif yang dapat dilakukan: (1) kelas benih dihapus, (2) kelas benih tetap ada tetapi bukan berdasarkan generasi melainkan berdasarkan standar mutu benih yang terukur.
Selain itu, Prof. Memen juga telah mendapatkan benih kacang koro unggul jenis koro putih atau koro pedang dengan panjang sekitar 30 cm dan berat untuk satu butir 2 gram. Potensi produksi 8-10 ton pada skala penelitian,sedangkan jika diterapkan pada petani dengan rata-rata keberhasilan mencapai 80% nya saja maka produksi bisa mencapai 6-7 ton. Kacang koro ini bisa mensubtitusi kebutuhan kedelai kita. (zul)