Prof Bambang Purwantara Mengudara di RRI, Bicara Kesehatan Kuda Delman

Prof Bambang Purwantara Mengudara di RRI, Bicara Kesehatan Kuda Delman

SAM_0187
Berita
Hewan kuda telah lama akrab dengan kehidupan manusia. Pemanfaatannya sebagai media transportasi, olahraga dan satwa kesayangan telah melekat di masyarakat sejak zaman purba. Dahulu  kuda sangat berguna untuk menjadi kendaraan dan fasilitas berperang. Di beberapa daerah, kuda bahkan dijadikan sebagai sumber protein hewani yang secara rutin dipotong pada rumah potong tertentu.
 
Demikian disampaikan Prof Dr Bambang Purwantara, Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor (FKH IPB) dalam siaran Dialog Pakar IPB di RRI Bogor, Selasa (24/2). Prof Bambang mengatakan, salah satu pemanfaatan kuda pada saat ini adalah sebagai penarik delman.
 
Kuda-kuda tersebut biasanya merupakan kuda lokal yang memiliki kemampuan daya angkut yang memadai, sesuai ukurannya dan memiliki perangai yang relatif tenang dan tidak mudah gugup. Ada dua kelompok kuda, yaitu kuda delman dan kuda tunggang wisata yang banyak tersebar seperti di Bogor, Sukabumi dan Cianjur.
 
Delman yang mangkal di Pasar Bogor dan sering dijumpai tengah membawa para wisatawan berkeliling Kota Bogor, merupakan atraksi tersendiri bagi para wisatawan lokal maupun mancanegara. Namun demikian, dari studi yang dilakukan oleh dosen dan mahasiswa FKH IPB, banyak hak-hak kuda yang tidak dipenuhi oleh para pemilik kuda. Hak-hak tersebut meliputi hak untuk hidup layak, yakni pakan yang mencukupi baik jumlah dan mutunya, jam kerja yang seyogyanya tidak melebihi kemampuan tenaganya dan hak memperoleh pelayanan kesehatan.
 
Menurutnya, kuda delman harus dirawat sebagaimana kuda-kuda lain. Karena kuda delman banyak digunakan tenaganya untuk menarik dan mengangkut, maka perawatan dan monitoring kesehatannya harus lebih baik dan memadai. 
 
“Kuda harus secara rutin dibersihkan dan disisir atau yang lebih dikenal dengan di-groom. Pakan yang diberikan, baik berupa rumput atau hijauan lainnya dan pakan penguat berupa biji-bijian atau dedak dan lainnya harus diberikan secara mencukupi dan berimbang,” terang Prof Bambang.
 
Indikasi kuda yang kurang pakan, baik jumlah dan mutunya meliputi postur tubuh yang kurus dengan body condition score  (BCS) yang rendah, mudah lelah dan pada akhirnya mudah terserang penyakit. Pakan yang kurang juga dapat berimplikasi pada penampilan yang menjadi kurang menarik seperti bulu kusam, cahaya mata yang redup, pertumbuhan kuku yang tidak sehat dan rapuh.
 
Kuda juga harus memperoleh vaksinasi terhadap beberapa penyakit penting yang dapat membahayakan kuda apabila tidak dilakukan. Pemilik kuda harus secara rutin memeriksakan kudanya pada dokter hewan, agar dapat diketahui kalau ada masalah kesehatan yang harus ditangani segera. Pemberian vitamin secara suntik maupun oral diperlukan agar kuda dalam kondisi segar.
  
Dengan masa bunting hampir satu tahun, kuda betina diharapkan dapat menghasilkan keturunan secara rutin setiap 15 bulan. Kuda yang sedang bunting sebaiknya tidak diperkenankan untuk bekerja. Dengan memiliki jumlah kuda yang mencukupi untuk penggantian kuda yang bunting, pemilik delman akan dapat terus berkiprah dalam pemenuhan kuda sebagai alat transportasi wisata yang menarik, pungkasnya. (wrw)